Thursday, 2 April 2020

"AKU DAN BUKU #2"

Perempuan-Perempuan yang Mencintai Buku



Penulis: 
Ale Siregar, dkk
Genre:
Non-Fiksi
Penerbit:
Radio Buku Yogyakart
Terbit:
September 2017
Tebal: 
171 halaman

“Buku ini lahir dari proses belajar bersama selama tiga purnama dalam Kelas Radio Buku yang diselenggarakan secara berkesinambungan. Kegiatan yang dituntun secara ketat oleh kurikulum berbasis akademi komunitas ini menjadikan buku ini sebagai bukti lulus atau “ijazah” bahwa pembelajar telah menyelesaikan proses belajar bersama tentang tiga laku utama: membaca, mengelola-memproduksi informasi, dan menulis.”

Kutipan di atas mengawali perkenalan dengan buku yang dicetak terbatas ini. Beruntung sekali saya masih diperkenankan oleh kakak-kakak Radio Buku yang baik hati dan tidak sombong untuk mencetak nama dalam “ijazah”. Karena saat proyek ini berjalan, saya kabur karena sok menyibukkan diri di kampus. Hehe. Setidaknya kan nanti bisa jadi bahan cerita ke anak cucu. J

Asing tapi menyenangkan. Itulah kesan selama belajar bersama teman-teman baru di komunitas Radio Buku. Saya lupa awalnya bagaimana bisa mendapat informasi tentang magang di markas booklover ini. Tapi saya bersemangat sekali ingin belajar hal baru saat itu. Niat utama saya adalah membebaskan diri untuk berani mengenal lingkungan baru dan memperluas wawasan terutama yang bersinggungan dengan manusia-manusia yang mencintai buku.

Buku ini berisi pengalaman membaca 19 perempuan tentang buku-buku yang berpengaruh terhadap diri dan kehidupan mereka. Bagi saya sangat menarik ketika perempuan dan buku dipertemukan. Perempuan adalah madrasah alias sekolah pertama bagi anak-anaknya, maka menurut saya sangatlah penting bagi perempuan untuk selalu belajar. Salah satu media belajar adalah buku. Bacaan. Wawasan ibu yang luas pasti akan berpengaruh terhadap proses belajar anak. Anak akan lebih mudah akrab dengan buku jika orang tuanya juga suka membaca. Sebagaimana dituturkan dari pengalaman masa kecil perempuan-perempuan dalam buku ini.

Membaca buku ini secara tidak langsung juga bisa jadi referensi bagi yang sedang bingung ingin membaca buku apa. Seperti misalnya judul yang paling sering disebutkan berpengaruh di jaman kecil mereka yaitu Lima Sekawan karya Enid Blyton. Judul buku yang seingat saya belum pernah saya baca dan jadi pengen baca.

Saat membaca buku ini saya diingatkan lagi dengan dua judul buku yang menurut saya cukup berpengaruh bagi saya dalam memandang dunia dan bersikap. Mereka adalah Winnetou 1 yang dengan rajin saya baca saat istirahat sekolah di SMA dan Chicken Soup for the Soul yang jadi salah satu buku favorit di masa SMP. Sebenarnya masih banyak buku lainnya (pernah saya sebutkan di sini https://isi-tas.blogspot.com/2016/02/the-girl-and-pile-of-books.html) karena saya yakin bahwa sedikit atau banyak, setiap apa yang pernah kita baca memiliki pengaruh terhadap pemikiran kita.

Ya, memang se-keren itulah buku. Yuk membaca!


Monday, 23 March 2020

SIBUK ITU BAIK (3)



Disclaimer: tulisan ini semacam curhatan dari Mamak baru.

Sudah dua puluh tiga hari hidupku diwarnai oleh tangis dan poop bayi. Semua yang pertama selalu butuh penyesuaian. Pertama menikah, pertama bersama orang asing, pertama hamil, pertama melahirkan, pertama bersihkan poop dan ganti pampers bayi, pertama gendong bayi, dan.. pertama kali belajar memahami kemauan anak sendiri.

Well, bahasa pertama bayi adalah tangisan. Hal ini harus disadari oleh semua pihak. Menangis adalah wajar bagi bayi. Tapi ya harus segera ditolong, dibantu memenuhi keinginannya agar tangisnya tidak berubah menjadi amarah yang menjadikan seisi rumah turun derajat warasnya dan mulai ikut-ikutan marah.

Saya pun belajar. Dua malam ini kami, Mamak dan Ayah baru ini, berkesempatan menjaga dan merawat si anak bayi hanya berdua. Ibuk pulang dulu untuk istirahat dan memang berniat pulang dulu agar Mamak dan Ayah baru ini belajar merawat anak bayi secara mandiri. Ya, memang awalnya berat melepas kepulangan Mbah Uti dan Tung, tapi kami harus mencoba. Satu yang paling saya khawatirkan adalah saat tiba waktunya anak menangis dan tidak kunjung tenang walau sudah diberi ASI. Biasanya akan langsung digendong oleh Mbah Uti dan dia pun cepat tenang. Buah dari kesabaran Mbah Uti. Saya sendiri sangsi terhadap kesabaran diri ini saat menghadapi situasi yang serupa.

Satu nasehat ibuk yang akan saya ingat, “Harus sabar merawat anak. Kalau ibuknya marah atau kesal, nanti air ASI nya panas, anak tambah rewel.” Oh ibuk, semoga Allah karuniakan usia yang berkah dan bahagia untuk ibuk.

Alhamdulillah, proses penyesuaian dan belajar bertiga saja mampu kami lalui dengan baik. Sekarang bahkan saya sudah nggak terlalu mellow seperti awal-awal harus jaga bayi sendirian. Setelah dua malam ini, saya pun mendapatkan kembali kepercayaan diri sebagai seorang ibu baru bagi sebuah kehidupan. Saya berhasil kembali ke rasa syukur tak terhingga. Saya kembali diingatkan bahwa sekarang dengan hadirnya buah hati kami, berarti hari-hari akan semakin disibukkan dengan kebaikan. Insya Allah waktu akan semakin berkah bermanfaat jika saya bisa menikmati nikmat mengurus bayi sendiri. Aamiin.

Hadirnya Dedek membuat saya harus menyesuaikan lagi kegiatan sehari-hari agar tetap happy dan pekerjaan rumah selesai dengan baik. Membiasakan diri dengan jadwal baru selalu tidak mudah, tetapi Alhamdulillah setelah mampu melihat dengan baik dan menemukan bahagia, apapun yang harus dikerjakan dan dilalui tidak lagi menjadi beban. Insya Allah. Semoga tetap dalam kesabaran, ilmu yang cukup, dan iringan doa-doa terbaik untuk Si Anak Bayi.



Pola tidur Anak Bayi masih terbalik, kalau siang tidur terus dia, sedang kalau malam bangun dan mulai gelisah. Pagi, selama dia tidur setelah nenen, Mamak bisa mandi, mumpung ayah belum berangkat kerja jadi bisa dimintai tolong jaga Dedek. Beres-beres sedikit, terus menyiapkan perlengkapan mandi Dedek. Oh ya, selama satu bulan pertama ini saya pakai jasa perawat dari RS untuk memandikan. Saya belum berani, Mbah Uti juga sama. Sekalian ternyata bisa ngobrol dan mendapat beberapa tips per-bayi-an.

Selesai mandi, dedek pun berjemur. Kenapa nggak berjemur dulu baru mandi? Ini sih fleksibel. Tergantung jam kedatangan perawat dan waktu munculnya matahari yang akhir-akhir ini suka malu-malu di pagi hari. Kalau Si Anak Bayi kenyang, dia akan anteng, tidur dengan nyenyak saat dijemur, tapi kalau belum nenen sudah dijemur, duh.. rame deh. Hehe. Nah, baru deh sekitar jam 9 sampai 10 Mamak bisa cuci baju dedek, menyapu, atau beres-beres rumah. Sekitar jam 10 Anak Bayi biasanya akan bangun minta nenen. Intinya sekarang ini, Mamak harus pandai-pandai memanfaatkan waktu saat Dedek tidur. Sebelum ikut tidur siang (harus disempatkan), bisa dipakai untuk “me time” Mamak. Seperti sekarang, siang ini bisa disambi nulis juga selain nonton atau baca buku. J

Menjelang malam, selepas Isya’ udah nggak bisa jauh lama-lama dari Anak Bayi karena dia mulai lebih sensitif. Beberapa hari ini dia sering gelisah, nggak nyaman. Nah, Mamak baru kemarin sore ini pun berusaha tetap tenang dan mencoba segala jurus untuk bisa membuat anak tenang. Kasih ASI, ganti pampers, kasih minyak telon, digendong, diajak ngobrol, ngaji, nyanyi. Masa-masa emas bonding anak dan mamak masih terus berlangsung. Pokoknya harus tetap happy semua. J Rasanya pengen cepet pagi lagi, haha, tapi Mamak ingat lagi pesan Mbah Uti. Harus kita yang sabar. Bayi baru belajar menghadapi dunia ini. Harus kita yang sabar.

Begitulah, semoga kehadiran Si Anak Bayi ini senantiasa membawa keberkahan. Bertambahnya tanggung jawab merawat dan mendidik anak ini saya pikir-pikir lagi (setelah sempat resah gelisah juga dengan peran baru) adalah nikmat dari Allah agar waktu Mamak semakin terjaga dari perbuatan yang sia-sia. Masya Allah. Terima kasih Allah. Makasih Dedek. Mari saling memahami dan belajar lagi ya… Love you, sayang…

Friday, 20 March 2020

"PERSALINAN MARYAM"



Penulis: 
Mugi Rahayu
Genre: 
Non-Fiksi/Islam
Penerbit: 
Pradita Utama (PrayU) Yogyakarta
Tahun terbit: 
2019
Tebal: 
236+ halaman

Sebagaimana judulnya, buku ini membahas proses persalinan Maryam binti Imran seperti tertulis dalam Al-Qur’an, tetapi buku ini bukan tafsir melainkan sajian hikmah dari peristiwa tersebut. Pertemuan dengan buku ini terjadi tanpa sengaja. Tanpa saya mencari-cari. Seorang teman yang berjualan buku memposting status WA tentang pre order buku ini. Pas sekali momennya.

Saya baca buku ini karena memang sedang dalam masa-masa mencari dan mengumpulkan ketenangan dan kekuatan hati menghadapi persalinan yang insya Allah akan segera terjadi (Alhamdulillah saat tulisan ini saya posting, Anak Bayi sudah berusia 20 hari). Selain mendapatkan pengetahuan tentang hamil dan persalinan dari orang tua dan kerabat, saya juga membaca dari sisi ilmu pengetahuan, dan terakhir yang terpenting secara psikologis saya mengumpulkan keberanian dengan bacaan seperti buku ini.

Menurut saya, buku semacam ini sangat penting untuk mengimbangi beragamnya informasi seputar kehamilan dan persalinan yang dapat dengan mudah kita dapatkan di internet. Terkadang karena banyaknya informasi itu, kita jadi bingung atau bahkan tambah khawatir karena tanpa sengaja membaca tentang kasus-kasus dalam kehamilan dan persalinan. Sementara itu bagi saya, buku ini dapat menetralkan kembali perasaan dan pikiran saya sebab buku ini membahas dari segi hikmah Al-Quran. Tulisan ini kembali mengingatkan bahwa segala sesuatu itu terjadi hanya atas ijin Allah semata. Bahwa menjadi seorang ibu dan segala proses yang dilaluinya adalah bentuk jihad seseorang yang terlahir sebagai perempuan. Bahwa berpasrah, tawakkal, percaya kepada Allah adalah senjata paling ampuh setelah segala upaya untuk mendapatkan ketenangan, kekuatan, dan keberanian menghadapi apapun yang harus dilalui. Sebagai seorang muslim afirmasi positif seperti yang tertulis dalam buku ini yang memang sedang saya butuhkan saat itu.

Dari segi penulisan, buku ini enak dibaca, mungkin karena merupakan penuturan dari seorang ibu yang juga seorang bidan. Sayangnya, masih banyak kesalahan ketik alias typo dan ada dobel paragraf. Walaupun tidak mengurangi esensi dari isi tulisan, tetapi bagi saya cukup mengganggu saat membaca.

Saat akhirnya saya menjalani proses melahirkan secara normal atas ijin Allah, saya belum selesai membaca buku ini. Tetapi Alhamdulillah bagian tulisan yang penting dalam menghadapi persalinan sudah sempat saya lahap dengan nikmat. Saya mencoba terus mengingat sosok wanita suci Maryam yang melahirkan Isa tanpa bantuan siapapun, hanya dibersamai oleh Jibril, tetapi begitu sabar bahkan dalam kondisi difitnah oleh kaumnya. Alhamdulillah, berkat sempat mengisi pikiran saya dengan membaca kisah Maryam ini, setiap rasa yang indah menjelang dan saat persalinan bisa saya hayati dan berakhir dengan syukur luar biasa. Masya Allah.

11 hari menjelang persalinanku

Sekarang bukunya sudah selesai saya baca. Boleh banget lho kalau ada yang mau pinjam atau bisa membeli melalui akun instagram: kutukubukujogja.

Selamat belajar, Moms..

#persalinanmaryam
#ibuhamil
#bumil
#ibudanbayi

Wednesday, 4 December 2019

SIBUK ITU BAIK (2)

Target tahun 2019 selain menjadi pekerja adalah menikah. Yup, sebagai seorang perempuan segera menikah (bukan terburu-buru menikah) adalah sebuah kebaikan menurutku. Semua kuusahakan dilalui dengan niat dan cara yang benar. Insya Allah. 

Tujuh bulan kemudian, apa yang terjadi?

Tujuh bulan sudah sejak hari bersejarah itu. Alhamdulillah. Sekarang Allah telah ijinkan Si Dedek hadir. 5 bulan lebih usianya dalam kandungan. Masya Allah. Sungguh, Allah baik banget. Kami mencoba menikmati segala ketetapan Allah. Hanya syukur, doa, dan doa lagi yang bisa kami panjatkan. Allahuakbar. 

Sekarang, belajar lagi dan lagi setiap hari karena nggak ada lagi aku, tapi kita. Semoga "aku" ini bisa seutuhnya menjadi manusia yang bermanfaat. Tidak harus jauh-jauh, dimulai dari keluarga kecil ini dulu. Insya Allah. Aamiin. 

Kalau kemarin setelah menikah, harus bolak-balik Trenggalek-Tulungagung, untuk sementara sekarang pulangnya seminggu sekali biar Mamak nggak capek dan Dedek sehat. Semoga suami selalu dikaruniai kesabaran dan keberkahan atas kesabarannya ya... :) Ini juga karena kemarin, sebelum tiga bulan, Mamak teler, mual, muntah, nggak doyan makan sampai harus nggak masuk kantor satu bulan. Hehe. Dedek kuat banget ya.. Mamak harusnya juga bisa lebih kuat! Semangat! 

Nah, sekarang saatnya kita kembali memperbaiki diri lagi dan lagi, Dedek. Iya, kita, Ma dan Ayah dibersamai Dedek.

1.    Morning Routine :

Dedek, bangun sebelum subuh yuk. Kita sholat malam dan dua rakaat sebelum subuh. Setelah itu kita baca quran. Ma tahu ini akan berat, tidak dulu tidak sekarang. Tapi kita harus belajar lagi dan berusaha bersama ya. Bismillah.

2.    Spare Time :

Dedek, Ma suka buka-buka buku dan mainan benang. Dedek suka nggak? Ma ingin buat banyak hal selama dedek di dalam perut Ma. Semoga Dedek tumbuh menjadi pribadi yang sholeh, cerdas, kreatif, dan inovatif ya.

3.    Being Girl :

Dedek, Ma akan terus belajar menjadi Ibuk. Semoga Dedek dan Ma bisa saling bersabar dalam proses belajar yang tidak akan pernah berhenti ini ya, sejak kamu nempel dan terus tumbuh di dalam rahim Ma. Ah Dedek, Ma selalu terharu kalau bahas tentang kehadiran kamu di perut Ma. Ma merasakan karunia Allah yang luar biasa terlahir sebagai perempuan dan diberi kesempatan berharga ini, mengandung jabang bayi, Kamu.

4.        Pocket Money :

Dedek, Ma masih terus meraba-raba, bagaimana cara mengelola keuangan yang baik. Tentunya sekarang ada alokasi-alokasi dana untuk keperluan-keperluan bersama Ayah dan Kamu.

5.    Relationship : 

Dedek, banyak yang berubah sejak Ma menikah dengan Ayah. Keluarga besar sekarang jadi semakin besar. Yuk kita jaga bersama. Insya Allah. Semoga Allah selalu hadir dan kita hadirkan dalam setiap langkah hidup kita ya, Dek. Aamiin.

Monday, 11 February 2019

"WHAT TEACHERS MAKE"

sumber: www.amazon.in

Saya beli buku ini di Surabaya saat pertama kalinya menjadi bagian dari Big Bad Wolf Sale.

Sudah niat mau beli buku cerita anak dan/atau buku non-fiksi. Karena saya memang lebih suka baca buku non-fiksi. Setiap baca ulang selalu ada pelajaran baru yang bisa didapat. Sedangkan kalau fiksi, setelah tahu alur ceritanya, sudah, selesai, malas baca ulang lagi, kecuali novel Bahasa Inggris yang niat membacanya adalah juga untuk memperkaya kosa kata. Bisa berulang kali nih bacanya. Hehe.

Nah, salah satunya ketemu lah dengan buku mungil ini. Pas banget saya sedang suka tema pendidikan anak. Lalu baca daftar isi dan ada bab yang mengikutsertakan kata “Insha Allah”. Langsung mikir, oh buku apa ini? Apakah penulisnya muslim? Pendidikan muslim di Amerika? Penasaran, beli deh. Apalagi setelah baca puisinya yang fenomenal itu (What Teachers Make), bagus isinya. Silahkan cek pembacaan puisinya di channel youtube Taylor Mali.

Jadi, siapakah Taylor Mali? silahkan langsung cek di website beliau taylormali.com




Membaca bab Introduction dan Chapter 1 membuat saya sekali lagi bisa mengatakan bahwa:

“writing is once again proved to be one of the best way to share and
at the same time to keep good memories”

and

“this is why I love learning English or other language because I can learn more from people outside my world, people with different culture and experiences”

Ya betul, buku ini adalah semacam penjabaran dari puisi yang dia tulis. Mr. Mali membagikan pengalaman-pengalaman menarik saat di dalam kelas. Cocok sekali sebagai bahan bacaan dan inspirasi bagaimana mendidik bagi para guru, atau mereka yang sedang kuliah keguruan, yang bercita-cita menjadi guru, bahkan bagi mereka yang masih bingung mau kerja di bidang apa. Pokoknya cocok untuk mereka yang memiliki minat tentang masalah pendidikan.

Banyak juga kutipan tentang pendidikan dari tokoh dunia dibagikan dalam buku ini. Salah satu yang menggugah adalah kutipan Richard Bach (penulis Amerika) sebelum memulai bab The Student Becomes The Teacher:

“you teach best what you most need to learn"

Buku ini memberikan sedikit gambaran tantangan hidup sebagai guru di Amerika pada jaman itu (ketika buku ini ditulis). Anggapan bahwa guru adalah profesi yang kurang menarik dan kurang menjanjikan secara finansial ternyata juga terjadi di negara semaju Amerika, apalagi kalau dibandingkan dengan kehidupan pendidik di negara tercinta kita ini. Semoga selalu semangat berjuang untuk kalian yang mencintai dan peduli pada pendidikan generasi penerus bangsa!

#happyreading
#respectteachers

Friday, 8 February 2019

SIBUK ITU BAIK



Salah satu target tahun kedua, tahun 2019, dalam target 5 tahunan saya adalah “bekerja”. Yup, working with people. Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak dulu-dulu aja? Ya karena  baru sekarang pengennya, baru sekarang siapnya, baru sekarang I finally decide to be part of the society.  Satu bulan kemudian, adakah hal-hal yang berubah? Ada dan memang harus ada. 5 hal pertama yang jadi beda adalah…

1.    Morning Routine : Kegiatan setelah sholat shubuh jadi jauh dari tidur lagi. Jadi terpaksa setrika dan cuci baju plus working out sometimes. Haha
2.  Spare Time : Aku yang anaknya gampang ngantuk (dan lapar) jadi harus atur waktu biar bisa tetap happy (nonton vlog favorit, memenuhi target baca buku, mainan benang, dan nulis blog) setelah jam kerja usai.
3.    Being Girl : Dulu sulit mencari alasan yang tepat untuk pakai sepatu cewek. Sekarang, ada alasan beli dan pakai sepatu cantik.
4.    Pocket Money : Harus belajar hidup dari uang jajan sendiri. Harus pandai menahan diri nggak beli banyak buku.

Terakhir (untuk sekarang) yang paling penting adalah…

5.      Relationship : Mengikuti jadwal kerja, sholat jadi lebih teratur, terutama sholat dhuhur jadi di awal waktu hehe, tapi… kalau tugas di luar kantor harus hati-hati jaga waktu.


#mogaberkah
#worthit
#jaganiat


Tuesday, 5 February 2019

LONG STORY SHORT

It’s now almost 1 year since my dramatic graduation on February 21, 2018. Long story short, I am now part of the government. I work for The Department of Agriculture and Food of Trenggalek. Yes, I am working in my favorite town. The town that is written in my birth certificate. It’s almost been a month I am sitting behind the table. I am trying to create my other comfortable zone there and still working on setting the best daily schedule so that I can still have an intimate time with my books and yarn.



Saturday, 5 January 2019

"JURU BICARA"


Penulis : Pandji Pragiwaksono
Penerbit : Bentang
Tahun terbit : 2016
Tebal : 182 halaman

Buku cetakan 2016 ini akhirnya saya beli akhir tahun 2018. Buku Pandji yang pertama saya baca. Buku pertama yang selesai saya baca (dalam satu hari) di tahun 2019 tepatnya tanggal 5 Januari. Pas banget jadi pembuka tahun penuh perhatian ini. Ketika saya sebagai seorang dewasa diharuskan (memang seharusnya) belajar sebelum mengambil hak sekaligus melaksanakan kewajiban sebagai warga negara Indonesia untuk memilih pemimpin. Untuk informasi, Pandji akan menerbitkan buku baru di bulan Maret yang akan membahas pengalamannya terjun di dunia politik. Sepertinya saya akan beli dan baca juga yang ini. Insya Allah.

Tulisan Pandji bisa dibaca di laman blog-nya Pandji.com. Tetapi bagi saya punya buku fisik itu masih tetap lebih asik. Saya baru “kenalan” dengan Pandji lewat video-video di kanal youtubenya yang akhir-akhir ini banyak saya dengarkan dan subscribe (karena subscribe itu gratis, hahaha). Kenapa saya mulai mendengarkan dia? Karena sebagai orang awam saya mendapatkan informasi-informasi cukup penting (bagi saya) yang disampaikan dengan menarik. Mungkin juga karena saya suka gaya bicara dan gaya penulisan yang kritis tapi santai. Inilah buku kedua yang setelah membacanya membuat saya ingin menulis lagi. Menulis apa saja, sebab “Jangan pernah menganggap remeh apapun yang Anda tahu. Sebab di tangan orang lain, informasi itu bisa jadi penting” (bab: unless, halaman 4).

Nah, apalagi dia suka bahas isu-isu Indonesia terkini. Saya jadi ada bahan buat mikir. Jadi ada bahan untuk bilang “Oh ya? Jadi gitu? Koq aq nggak tahu ya. Kemana aja selama ini. Ini orang ngomongin siapa sih. Bener juga dia. Ah, tapi nggak sepakat sama yang ini. Haha, lucu ni orang”. Yah, semacam itulah. Beberapa video lain sejenis yang lebih enak didengarkan daripada dilihat adalah Dunia Manji dan Gita Savitri Devi di segmen PagiPagi dan Beropini. Untuk podcast bisa deh coba dengerin Podcast Subjective dari Iqbal Hariadi atau Sheggario punya Ario Pratomo.

Oke, balik ke buku.
Ini dia beberapa bagian favorit saya dari buku ini:
Bab favorit:
“Unless”
Bab ini yang membuat saya balik kanan pengen berbagi pengalaman lewat tulisan lagi.
“Belajar dari Seinfeld”
Baca bab ini dan bab “Come Out and Play” saya jadi ingat kenapa saya jadi suka nonton bola. Karena saya akhirnya menangkap pelajaran penting bahwa ketika kamu gagal menggiring bola bahkan melakukan kesalahan fatal semacam melakukan gol bunuh diri, kamu harus tetap kembali fokus bermain untuk menang hingga peluit akhir berbunyi. D**n.
Kutipan favorit:
“orang jahat akan menang kalau semua orang baik membalas dendam dengan cara yang sama jahatnya.” (halaman 39)



*Buku sebelumnya adalah Citizen Journalism karya Pepih Nugraha terbitan Kompas

Thursday, 27 September 2018

"I AM SARAHZA"

pic: gramedia.com

Penulis               : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Genre                  : Novel/Family
Penerbit            : Republika
Tahun terbit    : Cetakan ke-3, Juli 2018
Tebal                    : 370 halaman

Saya suka membaca buku, meskipun sering kali lupa kalau saya suka. Lha! Ya, begitulah.

Menurut saya, penulis dan penikmat buku itu orang yang keren dan kalau satu frekuensi bisa jadi teman ngobrol yang asyik. Sama halnya dengan buku, bahagia pakai banget kalau ketemu dengan bahan bacaan yang sefrekuensi alias seiman. Daan.. saya akhirnya membeli dan membaca buku ungu ini. Secara resmi, setelah tuntas membacanya ba’da shubuh tadi, saya nyatakan buku I AM SARAHZA karya Mbak Hanum bersama suaminya Mr. Rangga ini jadi salah satu buku favorit saya. Terima kasih Mbak dan Mas, sang pejuang tangguh, yang telah membagi kisah supernya. Sekali lagi, saya bersyukur dilahirkan sebagai seorang perempuan dari ibuk dan ayah yang hebat.

Buku ini bukan untuk dibaca perempuan atau ibu-ibu saja tapi cocok dibaca orang tua, anak, calon orang tua, perempuan, laki-laki, istri, dan juga suami. Serius! Karena kalau menurut saya, buku ini tidak hanya berkisah tentang perjuangan mendapatkan keturunan tetapi perjuangan sebuah keluarga agar tetap kembali lurus berjalan di jalan Allah baik dalam keadaan sedih maupun senang. Bagaimana caranya? coba baca sendiri deh, hehe… tapi aku bocorin sedikit nih kutipan nasihat dari Pak Amien Rais agar hidup tetap tenang dan bahagia:
1.        Satu, jaga shalatmu. Shalat itu dibilang tiang agama, tapi juga tiang hidup seseorang.
2.    Dua, Al-Quran itu dibaca dan diresapi, jangan hanya dijadikan pajangan rak. Dibaca nyaring  agar aura rumahmu terkena pesonanya…
3.       Tiga, gunakan waktu luang bahkan ketika kamu melamun dengan zikir.
4.      Empat, sebagaimana zikir, sedekah itu melegakan hati.

Selama membaca buku ini, terutama bab-bab terakhir isinya terharu pengen nangis.. Tapi karena kemarin baca pas di dalam kereta yang penuh penumpang jadinya harus menahan biar nggak nangis beneran. Terus salah juga sebenarnya baca buku ini dalam perjalanan karena bawaannya pengen cepat pulang terus nowel-nowel pipi ibuk. Wkwk. Salut dengan Mbak Hanum dan Mr. Rangga yang dengan piawai memilih dan merangkai kata-kata sehingga kisahnya mudah dibaca dan nilai-nilai hikmahnya bisa masuk ke hati pembaca (terutama saya). Mengingatkan kembali bahwa tugas manusia adalah bersabar dalam usaha terbaiknya.

Apapun yang sedang kawan-kawan perjuangkan, jangan menyerah, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah.


Karena, semua dari kita adalah Sarahza! (Hanum Almahendra, 2018)

Saturday, 22 September 2018

WHAT WILL YOU DO?


Suatu hari kamu dan adikmu berjalan-jalan lalu menemukan sebuah arloji. Adikmu menekan salah satu tombol pada arloji itu dan kalian berdua hilang. Ternyata kalian ada di jaman dinosaurus dan di situ banyak terdapat dinosaurus.
Apa yang kalian lakukan sekarang?
_________________________________________________________________________________



Okay, akhirnya ada mood balik ke blog.
Maafkan tertunda lama mau upload yang satu ini (nggak ada yang nunggu juga sih, haha).

Siapa yang udah nonton Jumanji? Btw, karena nonton Jumanji: Welcome to the Jungle, ku jadi suka akting Dwayne Johnson. Kalau Jack Black? Jangan ditanya, he is always hilarious.

Apa hubungan curhatan Jumanji dengan post ini? Karena post ini isinya file game jaman cilikku dulu yang serunya ngalahin Jumanji. Serius? Iya, soalnya kan ku nggak pernah main Jumanji, jadi sudah tentu kalau game ini lebih seru. Haha.

So, here we go..

Pastikan kalian mengikuti petunjuk berikut satu-persatu…

p.s: peraturan no. 3 nggak boleh dilanggar atau kalian akan hilang.

hilang serunya... hihi

1. download dan buka file ini --> JAM
2. baca halaman pertama dengan seksama
3. pastikan tidak membuka halaman lainnya sebelum kalian menentukan pilihan halaman berapa yang akan dibuka selanjutnya
4. untuk membuka halaman berikutnya, langsung klik pada angka halaman pilihan kalian, seperti ini..




5. selamat mencoba, semoga kalian memilih dengan tepat dan bisa kembali pulang ke rumah!

Friday, 13 April 2018

THE POSTCARD (2)

Waaa… a lot has happened in my life… now is time to share it with you again…
Long story short (next writing material) I have finished my school life for now.
Going back to society and moving on.

Materi pertama dalam “comeback” saya kali ini adalah seputar update terbaru dari dunia persilatan postcrossing yang saya jalani beberapa bulan ini. Hmm.. memang belum banyak yang saya kirim dan terima. Sejauh ini ada 8 kartu pos terkirim dan diterima dengan selamat oleh sahabat pena nun jauh di sana. Ada juga 1 yang keselip entah di mana dan tak pernah sampai. Sementara ini  Pak Pos sudah cukup sering berkunjung ke rumah mengantarkan 12 kartu pos dari berbagai belahan dunia. Wohooo... Pengen deh besok kalau ada yang antar lagi bisa ketemu Pak Pos secara langsung terus bilang “makasih, Pak”. J Karena biasanya selalu diselipkan di bawah pintu.


Jadi guys, saya gabung di postcrossing.com dan anggota terbanyak yang aktif berasal dari Amerika, Rusia, Jerman, dan Taiwan. Nah, gegara (bahasa Kirana yang mulai populer di kalangan sendiri) itu kebanyakan saya kirim ke dan terima dari ketiga tempat itu. But sure, so far seru deh bisa baca pesan-pesan dari tempat yang jauh. Beberapa cerita tentang hobi dan minatnya, terus yang lain nulis tentang tempat-tempat seru dan bersejarah di negara mereka. Kalau aku sih kemarin nulis kegiatan sehari-hari dan hobi. Oh ya, sebelum sidang skripsi saya minta didoain juga biar lancar. Haha. Apa aja yang waktu nulis lagi di pikiran ya itu yang saya tulis. Kegiatan ini juga bikin inget si Christopher Johnson McCandless. Dia kan sering berkirim postcard ke sahabatnya Wayne. Well, I may have no courage to travel like him, but no reason to not to connect to the world. Oh ya, dalam film “Loving Vincent”, Vincent van Gogh juga diceritakan suka kirim postcard dan surat ke saudara laki-lakinya, Theo. See, selembar kartu pos yang hendak dikirim Armand Roulin menuntunnya ke perjalanan menemukan kisah hidup Vincent dan Theo van Gogh yang ternyata… menarik (baca sendiri ya kisah mereka, kalau sempat dan nemu filmnya, tonton deh, sukaaa).



Sejauh ini saya paling suka kartu pos bertema sejarah dan seni seperti 5 kartu pos dari 5 negara berbeda berikut.



Sewaktu ke Togamas Yogyakarta saya menemukan kebahagiaan selain buku dan ia berbentuk kartu pos unik dan menggemaskan berikut. Kartu pos produksi Tukartu Postcard ini bertema budaya Indonesia dengan penjelasan berbahasa Inggris di halaman untuk menulis pesan. Membantu banget pas bingung mau tulis pesan apa. Tinggal tulis alamat tujuan, tempel perangko, kirim deh. Desainnya itu lho… gemazzz….



Last but not least, waktu beberes barang-barang nemu kartu pos dari sepupu sewaktu dia sekolah di Mesir. Yeaaay… betapa bahagianya… punya banyak teman, betapa senangnya.. (eh lha malah nyanyi.. haha). Oke, jadi di dalam amplop ada surat dan 2 kartu pos masih utuh yang dikirim tahun 2005. Suratnya cerita tentang gimana cara naik haji kalau berangkat dari Mesir. Kalau membaca isi surat ini kayaknya sih sebelumnya saya kirim surat dulu dan tanya perihal perjalanan haji ini. Semacam surat balasan gitu. Haha. Udah lupa, ternyata kehidupan surat-menyurat saya sudah dimulai sejak cukup lama.



Ojeh (ikut-ikutan bahasa Hobri “Sirkus Pohon-Andrea Hirata”) segitu dulu cerita-ceritanya… Happy Postcrossing!

#connectingtotheworld
#talkingtopeople
#globalcitizen

Thursday, 28 December 2017

CAN WE TALK?

말은 사람의 입에서 태어났다가 사람의 귀에서 죽는다. 
하지만 어떤 말들은 죽지 않고 사람의 마음속으로 들어가 살아 남는다.
( 운다고 달라지는 일은 아무것도 없겠지만 by 박준 )

When listening to someone:

1.       Yes or no. We have to be clear whether we would listen to what other people will say. Ketika seseorang memutuskan untuk mengatakan sesuatu kepada kita, pastilah ia berharap agar didengarkan. Maka jika kita memang benar-benar sedang tidak ingin mendengarkan, katakan saja tidak. Ketika dirasa pembicaraan ini penting, maka… (perhatikan langkah berikutnya).

2.      Pay attention. Listen not only with ears but with all part of our body. Saya yakin kalau semua orang pasti senang jika lawan bicaranya memperhatikan dengan baik saat ia sedang berbicara. Berikan perhatian kita sepenuhnya dengan tidak melakukan hal lain saat mendengarkan seseorang berbicara seperti sibuk dengan ponsel atau pekerjaan lainnya. Jika perlu tatap matanya (paling tidak, kita tidak sedang melakukan hal lain). Hal tersebut juga sebagai bentuk menghargai orang lain.

3.       Just listen until we need to talk. Mendengarkan bukan pekerjaan yang mudah sebab terkadang seringkali ketika lawan bicara belum selesai menyampaikan pendapat, kita sudah terburu-buru ingin menunjukkan bahwa kita memahami masalah yang dibicarakan dan ingin segera menyampaikan pendapat kita. Jangan sampai kita menyela lawan bicara, baik itu dengan kata-kata atau perubahan ekspresi wajah yang tiba-tiba (terutama ekspresi tidak sependapat atau yang menunjukkan sikap meremehkan), tunggulah hingga dia meminta pendapat kita.

When talking to someone :

1.       No one can actually make us sad or happy. Jangan memulai suatu pembicaraan dengan anggapan bahwa semua orang akan memahami kita, tapi niatkan untuk melihat masalah dari sudut pandang lain. Jadi kalaupun orang tak sependapat dengan kita, tidak akan mudah timbul pertengkaran. Kita juga jadi tahu mana yang sependapat dan tidak dengan kita.

2.      A conversation between two people is not about you tell them, it’s about we try to understand each other. Berbicara dengan orang lain bukan untuk menonjolkan pendapat kita, tapi untuk mencoba saling memahami.

3.       A good conversation is talking about the matter itself, not about you nor about me. Sebaiknya tetap berfokus pada hal paling penting, yaitu permasalahan yang sedang dibicarakan. Tidak melebar pada pribadi yang membicarakan atau dibicarakan. Takutnya akan menjadi ghibah atau fitnah.

4.      Don’t forget to say “thank you” when we find something amusing or make us happy and “sorry” when we think the other party seems uncomfortable or we think would be so. Tolong, terima kasih, dan maaf adalah tiga kata ajaib yang tetap penting disampaikan dalam percakapan jika dibutuhkan untuk menjaga rasa nyaman. Tidak perlu gengsi atau sungkan bahkan merasa tidak perlu. Sebab dalam sebuah percakapan, hanya dengan berbicaralah kita bisa saling memahami maksud satu sama lain.


5.    Just be honest with what we are feeling and thinking about, especially when we feel comfortable enough. Sebuah percakapan atau pembicaraan tidak selalu ingin mencapai hasil sepakat. Maka santai saja kalau pendapat kita berbeda. Tidak perlu memaksakan orang lain untuk menjadi sama atau sebaliknya kita tidak mudah mengiyakan pendapat orang lain. Belajar untuk teguh pendirian tetapi tidak kaku dan tetap mendengarkan serta menelaah pendapat orang lain.