Labels

Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Thursday, 24 September 2015

SAYA DITANYA

Sebelum datang ke sebuah wawancara saya berhenti di sebuah warung. Sarapan. Di depan saya duduk seorang pemuda yang menarik perhatian. Lagaknya aneh. Dia memegang sebuah telur asin. Telur itu tidak segera dikupas lalu dimakan. Ia hanya memegangnya di dekat hidung. Mengusap-usapkannya ke lubang hidung sebelah kiri. Cukup lama. Entahlah. Dari semua hal yang bisa dilakukan di pagi ini, mengapa ia justru memilih berusaha keras memasukkan telur itu ke dalam hidungnya ya. Saya mencoba mengerti.

Memasuki gedung wawancara sudah banyak yang mengantri. Pukul sebelas nama saya baru dipanggil. Dalam wawancara siang itu saya ditanya begini, “Apa momen terbaik dalam hidup Anda?”.

Saya pun berfikir keras. Saya tidak boleh terlihat ragu dalam menjawab. Tapi terlalu banyak momen baik sepanjang hidup saya.

“Salah satu momen terbaik dalam hidup saya adalah di suatu siang ketika saya lapar, Pak.”

“Waktu kamu lapar?”

“Iya, Pak. Suatu siang, saya kelaparan dan hanya ada beras di kamar kos. Saya keluar hendak membeli tahu putih, tapi yang ada tinggal tahu kuning. Jadilah saya membeli tahu kuning itu dan  merebusnya. Ya, hanya saya rebus. Karena sangat lapar, akhirnya sambil menunggu nasi yang belum matang saya memakan beberapa tahu yang masih hangat itu. Di situlah Pak, Saya merasakan enaknya makan tahu. Nikmat sekali. Perut saya yang kosong berangsur terasa hangat begitu potongan-potongan tahu itu satu persatu masuk mulut, saya kunyah, lalu turun ke lambung.”

Bukannya saya tidak serius dengan menceritakan tentang itu. Bisa jadi momenmu itu berbeda dengan kebanyakan orang. Bagaimanapun jawaban terbaik adalah suatu kejujuran. Jadi menurut saya, sah-sah saja menceritakan apapun yang memang membuatmu menyebutnya momen spesial. Yang terbaik. Yang tak bisa dilupakan. Mungkin dipandang biasa atau aneh sekalipun.  

Dengan penuh percaya diri saya bercerita sebab saya yakin kalau pewawancara itu, si pemuda  yang berusaha memasukkan telur asin ke lubang hidungnya tadi pagi, tak akan mudah terganggu dengan cerita soal momen tahu kuning saya.


#ceritasaatduaoranganehbertemudisatumejamakan

Thursday, 17 September 2015

KANTONG AJAIB

Beberapa pasang sandal sudah berserakan di depan pintu ketika Vici datang. Sedikit tergesa ia memarkir motor di samping rumah. Diambilnya kantong besar yang dibawanya dari pasar. Sebelum masuk sekali lagi ia memastikan motornya sudah terkunci dengan baik dan aman. Bukan apa-apa, meski motornya bukan termasuk motor yang bagus tetapi tetap saja tidak mengubah fakta bahwa hanya itu motor yang ia punya. Sejelek-jeleknya barang yang kita miliki haruslah kita jaga dengan baik, sehingga ketika pun suatu hari harus hilang atau sudah tidak bisa dipakai lagi, rasa sesal itu tidak begitu besar sebab selama di tangan kita ia sudah dirawat dengan sebaik-baiknya. Kira-kira begitulah Ibu selalu berpesan.
“Halo...!”
Anak-anak serempak mengangkat tangan dan menjawab salam. Suasana yang sebelumnya riuh jadi semakin kacau. Energi bocah seusia mereka memang tidak ada habisnya. Vici merasa harus segera mengambil alih kelas. Dia tahu cara paling ampuh menenangkan mereka.
“Pasukan…”
Hampir semua anak menegakkan badannya lalu menoleh ke sumber suara. Mereka selalu suka mendengar suara yang lantang. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Vici segera mengangkat kantong coklatnya tinggi-tinggi untuk memancing rasa ingin tahu murid-muridnya. Alih-alih maju ke depan kelas, ia sengaja tetap berdiri di depan pintu yang ada di bagian belakang kelas.
“Ini apa ya…?”
“Kantong ajaib!” Ica, Rara, Sadam, Lili, dan Lala bersamaan melompat dari kursinya.
“Stop! Oke. Pasukan siap? Kalau sudah siap, ayo duduk di kursinya masing-masing.” Vici perlahan berjalan ke depan sambil tetap mengarahkan pandangan ke mereka, “Sini, lihat ke arah kapten, tatap mata saya,” anak-anak paling suka permainan peran yang satu ini. Awalnya cukup sulit meminta mereka fokus pada pelajaran tapi Kapten Vici berhasil mengumpulkan kembali pasukannya dalam tenda yang disebutnya kelas tempur. Dulu mereka lebih suka bersembunyi dibalik lumpur, menyerang dinding-dinding tanpa ampun dengan senjata warna-warni, dan berlarian kesana-kemari.
“Tada… “

Seekor burung besar dengan mata yang sangat banyak melompat keluar dari kantong coklat itu. 

Monday, 7 September 2015

TALK TO MY HAND, KUCING PREMAN!

Nggak ada kerjaan. Dua kucing di depan kamar sepertinya asyik buat diajak main. Begitu tanganku keluar dari sela-sela jendela, kucing tertua pun langsung menyeringai. Dia tahu ada bahaya mungkin ya. Sebuah ancaman dari sebentuk benda seperti ubur-ubur (siapa tahu dia kenal ubur-ubur) yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Melambai-lambai. “Benda asing apa itu, meow, brrrr!” Kira-kira mungkin begitu instingnya berbicara.
Kami pun lama saling menatap. Sorot mata hijaunya begitu tajam menembus lensa mataku. Kami berbicara dari mata ke mata.
“Hey, kamu lagi ngapain muter-muter di bawah motorku?”
“Ada masalah?”
“Nggak papa, lanjutin aja.”
Kuketuk-ketuk kaca jendela. Dia langsung waspada. Kuayun-ayunkan tangan di sela-sela jendela dan dia pelan-pelan mengambil posisi duduk. Meletakkan pantat dan ekornya sejajar dengan kaki-kaki belakangnya. Dialog sunyi pun kembali.
                “Hey, kucing preman, masih penasaran sama ni tangan?”
                “Brrrrr...apa itu?kamu mau apa?jangan dekat-dekat! Brrrr....”
                “Ngomong apa Cing?Nih, talk to my hand!
Hahaha...puas banget pas bilang itu ke dia. Akhirnya bisa kulampiaskan rasa kesalku. Emang enak ngajak orang ngobrol trus dia bilang “talk to my hand?” Nggak. Kurang ajar banget. Sedangkan, di dunia sebelah, kucing itu mungkin akan terus bertanya-tanya di sisa hidupnya. Benda apa itu yang melambai-lambai di sela-sela jendela.

March 03, 2014

Sunday, 24 May 2015

KERETA DUA JAM

Dua jam yang lalu gue ketemu dengan seorang backpacker di kereta menuju Surabaya. Bonus perjalanan menumpang kereta ekonomi bersama dua orang kawan perempuan. Agenda pekan ini sudah kami rencanakan sejak dua bulan yang lalu untuk mengunjungi kota dengan slogan beriman, rumah salah seorang teman.

Dulu, dengan polos kukira maksudnya benar-benar ‘hanya’ beriman karena banyak pondok pesantrennya tapi ternyata ada udang di balik batu dengan sang udang yang bilang kalau beriman itu singkatan bersih-indah-nyaman. Menarik. Satu dari sekian kata menipu di negeri berjuta akronim ini. Untunglah setelah disingkat pun kesan pesannya masih positif. Lain halnya dengan sabu. Bisa gawat kalau orang tua yang begitu polos mencak-mencak begitu mendengar bahwa anak-anaknya yang mahasiswa sering pesta sabu dengan intel di pagi hari di kamar kosnya. Lalu tetangga yang sok tahu pun lapor polisi dan setelah digerebek mereka hanya menemukan beberapa mangkuk bubur ayam dan indo*** telur. Payah.

I’m a time traveller,” bule berambut cepak rapi itu meluruskan tebakanku soal backpacker sambil menunjuk jam di tangan kiri. Rolex. Benar juga, backpacker nggak mungkin berlagak sok kaya dan keren.

Time traveller?” sepertinya gue baru saja menemukan teman seperjalanan yang menyenangkan, “tapi kita hanya bisa pergi ke masa depan, kan?” pikirku kalau benar orang ini gila dia pasti akan menggugat pernyataanku.

Chris menutup buku yang sedang dibacanya sejak naik dari stasiun kecil dekat Solo. Dari jendela kereta bisa kubaca judul buku bersampul merah bata itu. Ditulis dengan huruf besar dan tinta putih. Kayaknya sih novel bahasa inggris. Mungkin teman perjalanan atau semacamnya. Dilihat dari bawaannya Chris pasti sudah jalan-jalan ke banyak tempat. Tas carrier besar, matras, sandal gunung, topi, jerigen air.

“Ini buku yang hebat,” dia tahu mataku mencuri-curi di balik kaca, “buku ini yang membuat saya ingin menjelajahi waktu. Kamu kenal Christopher Johnson McCandless?” Oh My God bule ini lancar banget bahasa inggrisnya. Oke, bersiap mengerjakan soal listening.

The Supertramp?” Gue hafal banget dialog Alexander Supertramp di film tentang apel super yang dia bilang ‘the apple of my eye’. Baguslah dia ngomongin topik yang kukenal. Setiap bicara dengan bule pasti deg-degan, jangan-jangan aku akan terlihat bodoh karena nggak tahu yang dia maksud. Dicap nggak gaul atau lebih parah lagi dia mengeluh dalam hati tentang pengetahuan umum orang Indonesia. Nope, dia nggak boleh sampai memandang sebelah mata orang Indonesia gara-gara kurang updatenya gue.

“Pasti buku favorit kamu ya, Mr. Time Traveller?”

“Oh ya, sudah saya baca dua atau tiga kali. Ngomong-ngomong Surabaya jauh tidak?” Wah sayang sekali  aku turun di Jombang.

“Sekitar tiga sampai empat jam mungkin.”

“Saya sudah keliling Eropa dan sekarang saatnya menjelajah Asia. Indonesia yang pertama. Ini pertama kalinya saya ke Surabaya. Itu yang walikotanya terkenal sekarang. Hebat. Wanita yang hebat.” Sebagai sesama wanita gue ikut bahagia atas pujian Chris terhadap salah satu walikota terbaik negeri ini.

Hampir dua jam berikutnya, dua temanku dengan tega meninggalkanku yang kikuk berbahasa inggris ngobrol dengan Si Mas Bule sendirian. Mereka tidur pulas.

“Wow, itu pohon apa?” Setibanya di daerah Ngawi Chris langsung bertanya ini itu tentang pohon-pohon yang berjajar rapi di kanan kiri jalan. Seingatku kalau di negaranya Chris, itu sama dengan pohon Oak. Begitu kujawab demikian Chris melotot nggak percaya. Ya kali, ada pohon oak begitu. Haha. Lalu kujelaskan kalau itu pohon namanya Jati. Mas-panggilan laki-laki Jawa-Jati ini termasuk makhluk yang bisa digunakan untuk bahan konstruksi. Istilah kerennya kayu keras. Begitulah. Gue juga lupa sudah ngomong apa saja tentang Mas Jati. Yang jelas makhluk ini akan menggugurkan daunnya, the leaves will fall during summer, mm.. bingung juga kalau jelasin musim kemarau. “Oh, I mean, here, in dry season.” Syukurlah dia berbaik hati menerima penjelasanku yang amburadul.

What do you like about traveling?” sekarang giliran gue nanya, sengaja, biar dia nggak melanjutkan obrolan tentang Mas Jati.

Chris memonyongkan bibirnya dan menjawab, “Oh, that? Mmm.. mostly because I can meet people, new people, and... ” Chris menunjuk buku favoritnya lagi menyuruhku mengartikan sendiri maksud penunjukan itu. Oke.

Okey, trying to have a nomadic existence?” Akhirnya gue inget satu frase di buku itu yang cukup keren. Sekarang gue juga ngerasa cukup keren-atau sebaliknya, udik banget.

“Darimana kamu dapat uang, Chris?” Oh yeah, ini pertanyaan paling penting tiap kali lihat bule yang kerjaannya jalan-jalan terus.

I have saving.”

“Wow, it must be a lot. Pasti kamu orang kaya ya.” Belum pernah saya sebagai manusia seberani ini menilai orang secara terbuka.

“No,” tuh kan salah, “saya pernah bekerja di Virginia, lalu bosan, resign, dan memutuskan untuk keliling dunia. Menjelajahi waktu.”

“Cukup uangnya? Wow. Apa pekerjaan kamu?”

“IT”

Oh pantes. Tapi misteri darimana semua uang itu berasal masih tersimpan rapat hingga sekarang. Soalnya kalau dipikir-pikir seperti terlihat dari penampilannya, memang dasarnya ini bule kaya, jadi uang tabungannya pastilah cukup buat jalan-jalan. Tapi sudahlah. Yang lebih seru adalah waktu kita akhirnya ngobrolin tentang jalan tol.

“Kamu tahu kenapa orang buat jalan tol dan mau membayar lebih untuk lewat situ?” Chris mengangkat bahunya, nggak mau jawab.

Coz, you know, people are, actually, buying the time.” Dan tanpa diduga Chris mengiyakan pendapatku. Yuhuuu..

“Setiap orang ingin secepatnya sampai ke tujuan, sedangkan jalanan tambah ramai. Jadi para kontraktor membangun jalan tol agar orang-orang yang punya uang untuk membeli tiket masuk bisa sekaligus menghemat waktu tempuhnya. Kenapa? Kerena mereka sibuk. Karena mereka nggak punya waktu. Nggak punya waktu. Perasaan yang harus dimiliki oleh segenap makhluk di bumi ini.” Dan sekali lagi Chris mengiyakan. Singkat.

“Kamu nggak boleh hanya diam hingga melewatkan begitu saja. Terlalu banyak kejadian dalam satu waktu yang bisa kita nikmati. Tentunya kalau kamu tidak hanya berdiam di satu tempat. Selalu seperti itu. Ruang dan Waktu. Dimensi dimana kita tinggal sekarang.” Chris akhirnya kembali dengan nasihat bijak ala time traveller.

“Yup.”

“Bicara soal waktu, kamu nggak merasa wasting time dengan bepergian, Chris?”

“Hoho,” tertawa keras sekali sampai penumpang lain nengok ke kita dan berpikir wah koq bisa ya ngobrol sama bule, saya juga mau, “Tidak, saya tidak merasa rugi,  karena saya belajar banyak hal dari perjalanan ini.”

“Kamu suka kopi?”

“Eh, kopi?” Bule ini menawarkan kopi. Beneran. Ah, mungkin cuma tanya.

“Suka. Kopi hitam.”

“Oh, saya juga. Ke dapur yuk, saya mau tahu dapur di kereta ini.”

Dalam hati gue berharap di mau nraktir. Tahu sendiri kan, kalau kopi di dalam kereta itu harganya bisa dua tiga kali lipat. Itu pertama kalinya gue mengiyakan ajakan stranger.

Dan ketika aroma kopi hitam yang mendamaikan mengepul di depan wajah kami, Chris mengajukan pertanyaan terakhir.

“Orang lalu lalang pergi ke berbagai tempat, dunia ini jadi ramai sekali. Kadang saya lebih suka pergi ke tempat yang sepi seperti gunung atau pantai. Tapi sekarang gunung dan pantai pun ramai orang. Ya, kecuali beberapa tempat terpencil yang indah seperti ini,” Chris menunjukkan foto dirinya mengangkat sepatu di sebuah sungai kecil berair hijau.

“Jadi menurut kamu sepi itu apa?”

Lagi-lagi entah bagaimana gue punya jawaban untuk yang satu ini, “Sepi itu pas nunggu kereta ke Bogor yang nggak datang datang sementara orang-orang antri pengen masuk ke gerbong yang sudah beberapa kali lewat menuju Jakarta Kota. Semacam slow motion yang menyedihkan. Bergerak ke arah yang berbeda dari orang kebanyakan. Menunggu di barisan yang tak punya antrian. Semacam ada sekat tipis di antara tempatku duduk dan mereka berdiri yang membuat waktu kami berbeda.”

That’s it, semua soal waktu yang berbeda dengan ruang yang sama atau sebaliknya. But for sure we never really own it. So, kamu harus terus menjelajahinya. The Time.

Waktu dua jam berakhir dengan foto selfie berdua di gerbong dapur. Asap mengepul dari air panas di dua cangkir kami, menari-nari di udara. Menghantarkan partikel-partikel kecil kopi ke hidung kami yang aromanya menyebar ke seluruh gerbong bersama dengan satu cerita baru.

fiction_just met him_the supertramp_smartbutprettysickguy

ana_J/230515

Tuesday, 17 March 2015

MATI


             Batu kecil di tanganku ini begitu dingin. Apa bedanya aku dan batu ini. Menjadi keras dan membuatku takut sendiri.
Sudah pagi lagi. Sejak mulai bekerja dua tahun yang lalu, rasanya pagi cepat sekali datang kembali. Belum tuntas rasanya kurebahkan badan ini di atas kasur tipis pemberian mamak, adzan subuh sudah terdengar memanggil. Kupaksakan kaki ini melangkah meninggalkan rayuan setan di dekat telinga untuk segera menyentuh air pagi yang selalu lebih dingin.
Setiap membaca bismillah, aku ingat guru ngajiku dulu menyanyikannya, “Baca bismillah sambil cuci tangan,” dan seterusnya hingga ke kaki. Kutunaikan wudlu untuk menyucikan diri lalu bergegas menyusul jama’ah kawan-kawan sekontrakan.
Sekotak nasi dengan telur ceplok dan sambel kecap menjadi bekal hari ini. Kalau dapat giliran jaga pagi, maka sudah tak sempat menikmati sarapan bersama yang lain.
“Ratna, semua, berangkat ya.”
“Iya mbak Zul. Nanti pulang malam lagi?”
“Iya, mau mampir cari martabak telur. Nantilah kita bagi-bagi,” seisi rumah pun bersorak.
“Sudah siap men-talqin­ orang lagi, Zul?” pertanyaan itu seketika menghentikan candaku dan kembali mengingat mati.
Sejak lahir, aku sudah akrab dengan rumah sakit dan paling tidak suka dengan yang namanya perawat. Tapi mungkin karena benci sangat dekat dengan cinta, kini profesi itu menghidupiku. Giliranku memaksa orang lain minum obat ini itu.
Macet mengharuskanku berangkat bekerja bersamaan dengan jam kerja ayam jantan agar bisa sampai di ruangan ini tepat waktu. Satu-satunya ruangan paling sibuk di rumah sakit. Unit yang paling dihindari oleh orang-orang yang takut darah. Instalasi Gawat Darurat.
Suasana masih cukup tenang sebelum Pak Dir datang tergopoh-gopoh dari arah pintu utama. “Mbak, ada yang mau masuk.” Oh, Tuhan, tugas datang. Panggilan tugas lebih utama daripada panggilan cacing-cacing dalam perutku sepagi ini.
                “Iya, Pak. Minta tolong dibawa masuk. Saya panggilkan dokternya.”
             Rumah sakit cukup sibuk sejak kemarin. Dokter belum juga datang hingga para perawat senior memutuskan untuk segera menangani pasien yang sudah sulit bernafas. Ruangan menjadi lebih ramai dan kedatangan pengantar pasien itu sulit dikendalikan.
                “Bapak dan ibu harap tunggu di luar. Pasien akan segera kami periksa. Pasien membutuhkan ruang untuk bernafas. Kami akan....,” kalimat dari mulutku belum sampai titik saat Bu Nun menyatakan pasien tidak lagi bernafas. Kami semua, tiga perawat yang sedang berjaga langsung mendekat dan memastikan pasien masih dalam kondisi memungkinkan untuk kami tarik kembali.
           “Zulfa,” Bu Nun, perawat paling senior masih dalam keadaan tenang saat menyuruhku melakukan CPR. Tubuh itu telentang dihadapanku dan tak bergerak sedikitpun. Aku tertegun sejenak, sebelum akhirnya dengan sangat mengejutkan ketenangan yang cukup mengerikan mengalir dalam dadaku. Kukaitkan kedua tanganku dan kuletakkan di atas dada laki-laki berbaju biru itu.
                Tap...tap...tap...
               Berulang kali kutekan untuk membuat jantungnya kembali berdetak. Membuka lagi jalan nafasnya.
                Entah mungkin sudah berulangkali melakukannya atau bagaimana, aku masih cukup kuat meneruskan menekan bagian jantungnya bahkan cukup kuat untuk berteriak kepada keluarga pasien untuk berhenti menjerit dan menangis. Tetapi bak api yang menjalari kayu bakar berlumur bensin, berita kematian terlanjur memenuhi udara dalam ruangan sempit itu. Seorang pasien lain yang ikut menyaksikan episode itu ikut menjadi panik. Tekanan darahnya meningkat cepat.
Untunglah satpam segera datang mengusir keluar keluarga pasien dengan lebih lembut meski tampang mereka lebih menakutkan. Dokter pun datang dan mengevaluasi usaha kami. Detak detik yang cepat berganti tak sejalan dengan gerakan kami yang bagiku semakin melambat. Setiap orang pasti mati. Aku ingat baris itu seketika. Tapi pekerjaan kami mengharuskan untuk memperjuangkan denyut kehidupan sekecil apapun kemungkinannya.
Nafas lelaki itu kembali terdengar tapi sangat lemah. Keluarga pasien sudah bisa mengontrol diri. Tersisa dua orang yang ngotot ingin menunggui pasien. Pasien lain yang telah tertangani segera kami pindahkan ke ruang inap agar lebih nyaman.
“Bu Nun, saya takut,” kuberanikan membuka percakapan setelah situasi terkondisikan.
“Oalah Zul, kamu bukan anak baru di sini. Koq masih takut.” Bu Nun merapikan kembali ruangan yang sempat kacau. “Keluarga pasien memang begitu, apalagi kalau sudah gawat, adanya emosi semua. Nggak kita, nggak mereka. Sesekali membentak tidak apa, buat kebaikan pasien juga. Ini kan rumah sakit, bukan rumah mereka. Kalau mereka balik marah ya gimana lagi tugas kita menenangkan, mengingatkan.”
Bu Nun masih terus menyibukkan diri mengatur ini dan itu. Sesekali berbincang dengan petugas administrasi. Lalu berpindah ke ruang sebelah dan masuk lagi dengan setumpuk kertas atau sekotak peralatan. Mendorong kursi roda. Menerima telepon dokter lalu segera keluar lagi. Kami semua kembali sibuk membantu dokter yang sedang memeriksa beberapa pasien lain dengan keluhan-keluhan ringan.
Saat istirahat siang di kantin, Bu Nun melanjutkan obrolan kami. Mungkin ia khawatir ketakutan yang sempat kuutarakan akan mengganggu kinerja kami.
“Atau kamu masih takut lihat orang sakaratul maut? Semua yang hidup itu pasti mati, Zul,” Kalimat itu lagi. “Tidak seharunya kita takut. Apalagi kerja di rumah sakit. Pilihannya hanya dua, lihat pasien jadi sembuh atau kalau beruntung ya melihat kepergiannya.”
“Beruntung Bu?”
Perempuan dua belas tahun lebih tua dariku itu tersenyum, “Iya. Ibu belajar banyak tentang menghadapi saat-saat seperti itu dari mereka yang sakit atau telah pergi. Seperti kamu, dulu ibu sering nggak tega. Bahkan sampai sekarang wajah beberapa dari mereka masih ada yang belum bisa ibu lupakan.”
Ia masih sering menyembunyikan rasa harunya setelah membantu dokter menangani dan memeriksa pasien. Meski sering marah pada juniornya, aku tahu hatinya lembut sekali.
“Kalau beruntung lagi kita bisa membantu mereka mengakhiri ucap lisannya dengan menyebut nama Allah,” tambahnya.
Bu Nun benar, aku sudah cukup lama berkarib dengan episode-episode tak menyenangkan bahkan dengan hasil akhir lebih buruk dari kejadian pagi ini. “Belajar dari setiap kasus akan mendewasakan kita,” katanya setahun yang lalu. Memahami apa yang kami kerjakan. Mengerti alur kehidupan. Tapi entahlah, tentang takut yang dijawab perawat bertubuh tambun itu bukanlah yang sedang menimpaku.
Ruangan kecil itu semakin hari semakin membuatku merasakan keganjilan. Sepertinya orang yang sering kuajak bicara ini belum juga menangkap kegelisahanku sejak kumasuki ruang mayat beberapa minggu yang lalu. Bermula dari sana, perasaan ganjil itu baru kusadari saat mengantar jenazah seorang bayi, ikut memandikannya dan memastikan kain kafan sempurna menutupi tubuh mungilnya. Wajah kecil dengan mata tertutup itu.
Perasaan takut bercampur ngeri itu sepersekian detik mendadak muncul lagi ketika kuletakkan tanganku di atas dada lelaki berbaju biru. Bu Nun dan keluarga histeris tadi mungkin tak sempat memperhatikan. Terlalu sibuk mencoba menunda kematian yang jelas tak pernah kita ketahui kapan datang dan tak bisa ditunda atau disegerakan.
“Zul, Ibu sudah sering dengar cerita ini. Apa kamu ngerasa aneh setelah dari ruangan itu?” Ia menunjuk ke arah kamar mayat di ujung koridor sebelah. “Melihat yang tidak-tidak?”
Membayangkan yang tidak-tidak membuat tubuhku bereaksi. Bulu kudukku berdiri. Tapi demi meluruskan pemikiran tentang yang tidak-tidak, dengan tegas aku menggeleng. “Bukan Bu, bukan itu.” Suara sendok yang beradu dengan piring dan gelas kembali mengisi kekosongan pembicaraan.
Belum lagi nasi yang kami makan sampai ke lambung, Pak Dir lagi-lagi masuk dengan muka cemas. Di atas bed yang didorongnya terbujur tubuh seorang remaja cantik. Bau minuman keras menyeruak seketika. Kasus keracunan. Over dosis mungkin.
Mukanya pucat, tubuhnya kejang dan mulutnya mengeluarkan busa. Dari keterangan sopir langganannya, ia sudah muntah-muntah sejak masuk ke dalam taksi.
            Tak perlu komando, dokter langsung bertindak. Keributan tanpa suara kembali mengisi ruangan ini. CPR, intubasi, semua kami lakukan, sebagian demi nama kemanusiaan dan sebagian demi nama pekerjaan.
          14:48. Seorang dokter mengisyaratkan padaku untuk mengabarkan berita duka pada keluarganya.
                Lobi sepi. Sopir taksi sudah pergi. Hanya ada seorang ibu yang duduk dengan pandangan kosong. Di sana bercampur antara duka, marah, sesal. Si ibu berdiri demi melihatku membuka pintu.
Kasus kematian pertama hari ini adalah yang kedua puluh sekian bagiku. Ketenangan yang mengerikan itu kembali menjalar.
“Maaf ibu, kami sudah berusaha, pasien atas nama Ayu Rahmi meninggal...,” tangis pun pecah. Si ibu berlari masuk.
Mata perempuan cantik itu tertutup rapat. Inilah saat jasadnya tak lagi menjadi kuasanya. Saat tiada lagi yang menjadi perhatiannya selain dirinya sendiri. Merinding membayangkan kita akan kembali sendiri. Tubuh ini akan kembali melebur bersama tanah sedangkan jiwa akan kembali pada zat Maha Agung.
Kusempatkan memohon agar ia mendapat tempat terbaik.
Cukup lama pandanganku lekat ke arah pasien terakhir itu saat Bu Nun menepuk bahuku, “Sudah nggak usah sedih. Keluarga sudah mengikhlaskannya, Nak.”
“Bu Nun,” panggilanku yang tanpa suara ternyata sampai di telinganya. Saat melihat air mata sesal Si Ibu yang menghujani tubuh kaku itu dengan ciuman aku jadi mengerti. Aku tahu, apa yang selama ini meresahkanku. Apa yang kutakutkan. Sesuatu yang dingin ini.
Perempuan yang sudah sepuluh tahun jadi perawat itu memandangku lekat dan akhirnya mulai mengerti keresahanku selama ini. Ia kembali mendekat dan lirih mengatakan sesuatu.
Kesedihan yang selama ini hadir rasa-rasanya telah mati. Aku mencoba mencari tapi percuma. Air mata atau bahkan sedikit rasa haru juga tak tersisa. Rasanya tetap biasa. Dingin.
Pekerja seperti kita dianugerahi kematian seperti itu, Zulfa. Setelah melihat sendiri sekian kali kepergian kita jadi pandai mengendalikannya. Jadilah biasa. Akalmu memberi kesan tak peduli. Mungkin karena mereka adalah orang-orang yang tak pernah kita kenal. Mungkin juga karena kita mulai paham bahwa tak ada yang istimewa tentang kematian kecuali tentang bagaimana seseorang itu telah menjalani hidupnya.


Yogyakarta, atas cerita dari kawan, selesai saat jaga toko
24/02/2015

Thursday, 5 February 2015

ANGIN TIMUR

Angin yang bertiup kencang dari arah timur membuatnya terlalu sibuk untuk mencegah jubah besar dan kain panjang yang menutup seluruh tubuhnya terbuka. Ia tak lagi memperhatikan para lelaki yang sibuk menarik unta-untanya. Wanita-wanita lainnya berpegangan satu sama lain membentuk lingkaran, berusaha melindungi anak-anak mereka.
Sebuah tangan tiba-tiba meraih lengan gadis itu dan menariknya memasuki rombongan wanita-wanita. Lalu mereka berjalan perlahan ke balik bukit pasir menghindari angin timur yang tertiup semakin kencang dari belakang. Badai pasir memaksa mereka menghentikan perjalanan itu. Perjalanan yang telah banyak membuat orang menjadi gila.
 Sudah setahun setelah ia memutuskan menjalani pilihan hidupnya dan meninggalkan sebuah ruangan kecil dengan bertumpuk-tumpuk buku. Orang-orang menyebutnya perpustakaan tapi ia melihatnya tak lebih seperti gudang tua yang lambat laun ditinggalkan. Ia mengingat kembali percakapan dengan seorang guru yang tak sengaja di temuinya.
“Di sinilah hartaku berada, Tuan. Aku bisa menjelajahi dunia tanpa meninggalkan kursi dan meja kayu ini. Banyak kisah bisa kubaca dan kembali kuceritakan seperti para ilmuwan yang mengetahui banyak hal.”
“Nira,” Tuan yang telah datang berkunjung beberapa kali itu menyebut nama anak gadis itu.
“Tidakkah kau melihat tempat ini terlalu sempit untuk menjelajahi dunia?”
 “Aku juga ingin, tapi aku tak tahu caranya Tuan. Pun aku tak tahu apakah duniaku sekarang ini memperbolehkan.”
“Tak ada yang bisa menghalangi seseorang untuk belajar bukan?” Pertemuan terakhir dengan tuan yang telah membaca lebih dari seratus buku itu menggelitik rasa ingin Nira untuk sesegera mungkin meninggalkan ruangan nyaman itu. Maka, di sinilah ia sekarang berada. Di tengah rombongan orang-orang asing dengan rasa ingin tau yang mungkin sama.
“Perjalanan adalah salah satu cara untuk menemukan dirimu sendiri. Bukan tak mungkin kau akan menemukan dirimu dalam dirimu sendiri tapi kebanyakan kau akan menemukan dirimu melalui pertemuan dengan orang lain. Setiap jiwa ditakdirkan untuk saling bercermin. Cermin yang kau temui tak mesti bersih dan mudah memantulkan bayanganmu. Bisa saja ia adalah cermin yang buram. Tapi cermin tetaplah cermin. Jika kau mau dan mampu membersihkan noda yang menutupinya dengan kain kebijaksanaan bisa dipastikan kau akan melihat wajah bercahaya tanpa dosa. Sayangnya debu-debu pasir di dunia ini terkadang lebih sering menutupi wajah itu.” Seorang kakek membagi ceritanya di tengah segerombol wanita yang sedang memasak di atas api unggun.


Tuesday, 9 December 2014

HASNA

Namanya Hasna. Kakaknya bernama Noval. Dialah adik dari semua yang pernah hadir di tenda ini. Tangannya begitu mungil dan senyumnya sangat manis. Begitu kami duduk di deretan kursi yang telah tertata rapi sejak sore tadi, ia berjalan menghampiri. Langkah mungilnya diiringi senyum manis tak berdosa. Digigit-gigit tangannya. Terlihat malu-malu mendekati kami.

“Hai.” Salam yang begitu standar. Dan seperti anak-anak normal lainnya dia hanya memandang tanpa membalas salam kami. “Sini-sini.” Reaksi kedua yang juga standar. Kusentuh pipi gembulnya dan sekali lagi pertanyaan yang bisa ditebak keluar dari mulut kami, “Namanya siapa?”

Sang kakak membantuku memahami gerak bibir adiknya. Selanjutnya, gerakan tangan Hasna seperti memintaku untuk memangkunya. Kulingkarkan kedua tanganku di bawah ketiaknya dan menaikkannya ke pangkuanku. Wah, beginikah rasanya memangku buah hati kita nanti.

Makanan yang kami pesan pun datang. Ibu dan Bapak Hasna yang mengantarkan. Ya, tenda yang kumaksud adalah warung tenda di pinggir jalan. Ibu dan bapaknya yang berjualan. Aneka penyetan. Hasna masih di pangkuanku dan tak mau turun. Jadilah kami makan ditemani Hasna yang lebih asyik bermain tutup botol dan menjilati bibir botol minumku. Ia tertarik dengan riak air di dalam botol yang kugoyang-goyangkan. Saat mencoba melakukannya sendiri, bukan botol yang ia goyangkan tapi kepalanya. Lucu sekali. Dan senyum manis itu kembali hadir setiap kami menggodanya. Ciluk..ba...

Malam semakin larut. Noval jadi bermain bola sendiri karena adiknya lebih suka bermain dengan kami. Remain calm in my lap. Lalu serombongan gadis-gadis kuliahan seperti kami datang. Mereka pun menyapa Hasna. Perhatian Hasna teralihkan. Pertanyaan-pertanyaan dan reaksi-rekasi standar pun terulang kembali.

Mbak-mbak di sebelah berhasil meminta Hasna berpindah pangkuan. Kami tak punya hak melarang sebab dia adalah adik dari semua yang hadir di tenda ini. Kami pun melanjutkan makan. Dan sebelum pulang kami semua beramai-ramai melambaikan tangan padanya. “Dada dek Hasna...”

Hasna. Dialah adik dari semua yang hadir di tenda itu. Dia bersama kakaknya selalu berada di sana. Kau akan menemukan mereka asyik bermain di atas tikar berhias bantal dan guling usang yang terhampar di atas trotoar malam, di antara dapur dan deretan meja makan.

March 02, 2014

Wednesday, 26 January 2011

Demi Waktu


Motor yang mesinnya belum sempat dipanaskan harus segera kupacu. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 06.30, berarti tepat lima belas menit sebelum bel masuk kelas berbunyi.

Setelah sedikit keributan karena tugas-tugas yang tak terselesaikan, seragam yang belum diseterika, buku-buku belum sesuai jadwal, dan menghilangnya kacamata secara misterius, akhirnya aku berangkat juga. Tepat lima belas menit waktu yang kupunya untuk sampai ke sekolah, hingga tidak ada cara lain selain memacu motor dalam kecepatan tinggi. Kalau tidak salah melihat, speedometer menunjukkan angka 70 km/jam dan hampir tidak pernah berubah setiap hari.

Sambil terus menjaga kecepatan motor tetap stabil di angka itu, mataku sedikit melirik jam tangan. Kemudian setelahnya, aku akan berusaha menenangkan diri dan berkata dalam hati, “Tenang, pasti tidak terlambat”.

Tetapi tetap saja, sekuat apapun gas motor kutarik, kemacetan tak dapat dihindari. Di salah satu titik perlambatan, motorku terpaksa harus bergerak sangat pelan. Aduh, aku mulai tak tenang lagi. Terngiang lagi kalimat “terlambat” di kepalaku. Lalu tanpa sengaja, mataku tertuju pada gerombolan anak-anak muda di sebelah kiri jalan. Dengan sadar, aku perhatikan mereka. Kira-kira usianya sama denganku. Dengan dominan warna hitam dari atas sampai bawah, kecuali rambutnya yang berwarna-warni nan tak bercahaya, mereka bernyanyi-nyanyi diiringi sebuah gitar kecil. Aku ingat, apa ini yang disebut punkers? Oh Tuhan, bagaimana kalau aku seperti mereka ya? Apa mereka tidak sekolah? Bagaimana kalau hari ini atau entah kapan aku jadi seperti mereka? Apa yang bisa kulakukan untuk mereka? Padahal sempat dengan bangga aku menyebut diriku pandu pertiwi. Pelan-pelan kutinggalkan pemandangan itu dengan banyak pertanyaan aneh berkejaran di kepalaku.

Begitulah rutinitas pagiku. Ada saja yang kurang, yang hilang,dan ujung-ujungnya ada yang tertinggal di atas meja atau di kolong kursi. Untunglah baru dua kali aku terlambat datang ke sekolah. Ya, berarti dua kali pula gerbang istana, maksudku gerbang sekolah tertutup bagi pelaku-pelaku kriminal dalam kasus keterlambatan seperti aku dan beberapa temanku.

Setelah itu, baru saja masuk ke kelas, “An, sudah selesai?”, Ria menanyaiku soal tugas Bahasa Jepang. Aku tertegun. Dengan rasa tak bersalah, kalimat ini meluncur dari mulutku, “Ada tugas ya. Aku belum ngerjakan.” Belum selesai keterkejutanku atas tugas tadi, Rita menyodorkan sebuah kertas yang sedikit agak lusuh dengan banyak tanda merah di sana-sini. Oh Tuhan, ternyata itu adalah hasil ulangan matematika seminggu yang lalu. Tiba-tiba aku merasa benar-benar tidak berani membuka lembaran kertas itu. Bukan karena kertas itu punya gigi taring yang bisa menggigitku atau cakar tajam yang siap merobek ujung jariku, tapi angka bertinta merah di pojok kertas itulah yang menerorku.

“An, gimana? Dapat berapa?”, Sari menepuk punggungku, mengagetkan.

Dan hanya senyum tak ikhlas yang tersungging di bibirku. Mengintip sedikit saja ke dalam lipatan kertas itu sudah membuatku ingin pulang, belajar, dan mengembalikan putaran waktu ke masa sebelum kuterima soal-soal ulangan ini.

Kuhempaskan tubuhku ke atas kursi empuk, melihat sekeliling dan mataku kembali tertuju pada hasil ulanganku. Begini lagi. Selalu terulang lagi. Padahal kemarin aku sudah bertekad untuk belajar lebih rajin mengingat sudah naik ke kelas dua belas. Seharusnya sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak niat belajar, tapi kenyataannya ada saja alasan-alasan salah yang kubenarkan sendiri untuk mendukung kemalasanku.



Hitam, hah, aku teringat dengan apa yang baru saja kulihat tadi. Seperti sebuah paku kecil yang memaksaku melompat dari tempat duduk, dengan tiba-tiba semangat ini muncul lagi. Bahwa aku harus memulai lagi. Bersamaan dengan berbunyinya bel tanda masuk, aku ikrarkan lagi semangatku untuk berubah. Bukan seperti power rangers atau masked rider, tapi aku akan lebih bersemangat sekolah dan belajar agar kelak bisa bermanfaat dan bisa membantu mereka yang tidak sempat bersekolah sepertiku.

Dan kemudian, hari ini terlewati dengan sangat cepat. Tanpa mengeluh dengan catatan di papan yang semakin banyak dan daftar tugas-tugas yang semakin panjang, kukemasi barang-barangku. Kuingatkan lagi memoriku untuk segera mengerjakan semua PR tadi sore ini juga. Setelah itu, pukul lima membantu ibu, dan bisa belajar pelajaran besok di malam harinya. Jadwal belajarku kuubah seketika. Terlihat sangat rapi tertulis di secarik kertas. Aku sangat yakin, kalau besok pasti akan lebih baik dari hari ini.

Kembali ke jalan, aku melaju kencang dengan motorku. Rasanya tidak sabar aku melakukan semua rincian jadwal yang sudah kutuliskan. Pasti besok tidak ada lagi cerita kehilangan, rasa was-was akan terlambat, atau tugas-tugas tak terselesaikan. Aku tersenyum-senyum di perjalanan.

Setelah sampai di rumah, kulepas sepatuku dan segera berganti baju. Jam dinding menunjukkan pukul 16.00 WIB. Siang ini memang agak panas, jadi kupikir istirahat sebentar barang lima belas atau tiga puluh menit tidak akan masalah. Tidak akan mengganggu jadwal baruku. Begitu meletakkan kepalaku di atas bantal, aku langsung tertidur.

Satu menit…dua menit… Kubuka mataku dan melirik ke jam dinding. Oh tidak….. Lagi-lagi aku tertidur sampai pagi.