Labels

Showing posts with label jurnal. Show all posts
Showing posts with label jurnal. Show all posts

Monday, 23 March 2020

SIBUK ITU BAIK (3)



Disclaimer: tulisan ini semacam curhatan dari Mamak baru.

Sudah dua puluh tiga hari hidupku diwarnai oleh tangis dan poop bayi. Semua yang pertama selalu butuh penyesuaian. Pertama menikah, pertama bersama orang asing, pertama hamil, pertama melahirkan, pertama bersihkan poop dan ganti pampers bayi, pertama gendong bayi, dan.. pertama kali belajar memahami kemauan anak sendiri.

Well, bahasa pertama bayi adalah tangisan. Hal ini harus disadari oleh semua pihak. Menangis adalah wajar bagi bayi. Tapi ya harus segera ditolong, dibantu memenuhi keinginannya agar tangisnya tidak berubah menjadi amarah yang menjadikan seisi rumah turun derajat warasnya dan mulai ikut-ikutan marah.

Saya pun belajar. Dua malam ini kami, Mamak dan Ayah baru ini, berkesempatan menjaga dan merawat si anak bayi hanya berdua. Ibuk pulang dulu untuk istirahat dan memang berniat pulang dulu agar Mamak dan Ayah baru ini belajar merawat anak bayi secara mandiri. Ya, memang awalnya berat melepas kepulangan Mbah Uti dan Tung, tapi kami harus mencoba. Satu yang paling saya khawatirkan adalah saat tiba waktunya anak menangis dan tidak kunjung tenang walau sudah diberi ASI. Biasanya akan langsung digendong oleh Mbah Uti dan dia pun cepat tenang. Buah dari kesabaran Mbah Uti. Saya sendiri sangsi terhadap kesabaran diri ini saat menghadapi situasi yang serupa.

Satu nasehat ibuk yang akan saya ingat, “Harus sabar merawat anak. Kalau ibuknya marah atau kesal, nanti air ASI nya panas, anak tambah rewel.” Oh ibuk, semoga Allah karuniakan usia yang berkah dan bahagia untuk ibuk.

Alhamdulillah, proses penyesuaian dan belajar bertiga saja mampu kami lalui dengan baik. Sekarang bahkan saya sudah nggak terlalu mellow seperti awal-awal harus jaga bayi sendirian. Setelah dua malam ini, saya pun mendapatkan kembali kepercayaan diri sebagai seorang ibu baru bagi sebuah kehidupan. Saya berhasil kembali ke rasa syukur tak terhingga. Saya kembali diingatkan bahwa sekarang dengan hadirnya buah hati kami, berarti hari-hari akan semakin disibukkan dengan kebaikan. Insya Allah waktu akan semakin berkah bermanfaat jika saya bisa menikmati nikmat mengurus bayi sendiri. Aamiin.

Hadirnya Dedek membuat saya harus menyesuaikan lagi kegiatan sehari-hari agar tetap happy dan pekerjaan rumah selesai dengan baik. Membiasakan diri dengan jadwal baru selalu tidak mudah, tetapi Alhamdulillah setelah mampu melihat dengan baik dan menemukan bahagia, apapun yang harus dikerjakan dan dilalui tidak lagi menjadi beban. Insya Allah. Semoga tetap dalam kesabaran, ilmu yang cukup, dan iringan doa-doa terbaik untuk Si Anak Bayi.



Pola tidur Anak Bayi masih terbalik, kalau siang tidur terus dia, sedang kalau malam bangun dan mulai gelisah. Pagi, selama dia tidur setelah nenen, Mamak bisa mandi, mumpung ayah belum berangkat kerja jadi bisa dimintai tolong jaga Dedek. Beres-beres sedikit, terus menyiapkan perlengkapan mandi Dedek. Oh ya, selama satu bulan pertama ini saya pakai jasa perawat dari RS untuk memandikan. Saya belum berani, Mbah Uti juga sama. Sekalian ternyata bisa ngobrol dan mendapat beberapa tips per-bayi-an.

Selesai mandi, dedek pun berjemur. Kenapa nggak berjemur dulu baru mandi? Ini sih fleksibel. Tergantung jam kedatangan perawat dan waktu munculnya matahari yang akhir-akhir ini suka malu-malu di pagi hari. Kalau Si Anak Bayi kenyang, dia akan anteng, tidur dengan nyenyak saat dijemur, tapi kalau belum nenen sudah dijemur, duh.. rame deh. Hehe. Nah, baru deh sekitar jam 9 sampai 10 Mamak bisa cuci baju dedek, menyapu, atau beres-beres rumah. Sekitar jam 10 Anak Bayi biasanya akan bangun minta nenen. Intinya sekarang ini, Mamak harus pandai-pandai memanfaatkan waktu saat Dedek tidur. Sebelum ikut tidur siang (harus disempatkan), bisa dipakai untuk “me time” Mamak. Seperti sekarang, siang ini bisa disambi nulis juga selain nonton atau baca buku. J

Menjelang malam, selepas Isya’ udah nggak bisa jauh lama-lama dari Anak Bayi karena dia mulai lebih sensitif. Beberapa hari ini dia sering gelisah, nggak nyaman. Nah, Mamak baru kemarin sore ini pun berusaha tetap tenang dan mencoba segala jurus untuk bisa membuat anak tenang. Kasih ASI, ganti pampers, kasih minyak telon, digendong, diajak ngobrol, ngaji, nyanyi. Masa-masa emas bonding anak dan mamak masih terus berlangsung. Pokoknya harus tetap happy semua. J Rasanya pengen cepet pagi lagi, haha, tapi Mamak ingat lagi pesan Mbah Uti. Harus kita yang sabar. Bayi baru belajar menghadapi dunia ini. Harus kita yang sabar.

Begitulah, semoga kehadiran Si Anak Bayi ini senantiasa membawa keberkahan. Bertambahnya tanggung jawab merawat dan mendidik anak ini saya pikir-pikir lagi (setelah sempat resah gelisah juga dengan peran baru) adalah nikmat dari Allah agar waktu Mamak semakin terjaga dari perbuatan yang sia-sia. Masya Allah. Terima kasih Allah. Makasih Dedek. Mari saling memahami dan belajar lagi ya… Love you, sayang…

Wednesday, 4 December 2019

SIBUK ITU BAIK (2)

Target tahun 2019 selain menjadi pekerja adalah menikah. Yup, sebagai seorang perempuan segera menikah (bukan terburu-buru menikah) adalah sebuah kebaikan menurutku. Semua kuusahakan dilalui dengan niat dan cara yang benar. Insya Allah. 

Tujuh bulan kemudian, apa yang terjadi?

Tujuh bulan sudah sejak hari bersejarah itu. Alhamdulillah. Sekarang Allah telah ijinkan Si Dedek hadir. 5 bulan lebih usianya dalam kandungan. Masya Allah. Sungguh, Allah baik banget. Kami mencoba menikmati segala ketetapan Allah. Hanya syukur, doa, dan doa lagi yang bisa kami panjatkan. Allahuakbar. 

Sekarang, belajar lagi dan lagi setiap hari karena nggak ada lagi aku, tapi kita. Semoga "aku" ini bisa seutuhnya menjadi manusia yang bermanfaat. Tidak harus jauh-jauh, dimulai dari keluarga kecil ini dulu. Insya Allah. Aamiin. 

Kalau kemarin setelah menikah, harus bolak-balik Trenggalek-Tulungagung, untuk sementara sekarang pulangnya seminggu sekali biar Mamak nggak capek dan Dedek sehat. Semoga suami selalu dikaruniai kesabaran dan keberkahan atas kesabarannya ya... :) Ini juga karena kemarin, sebelum tiga bulan, Mamak teler, mual, muntah, nggak doyan makan sampai harus nggak masuk kantor satu bulan. Hehe. Dedek kuat banget ya.. Mamak harusnya juga bisa lebih kuat! Semangat! 

Nah, sekarang saatnya kita kembali memperbaiki diri lagi dan lagi, Dedek. Iya, kita, Ma dan Ayah dibersamai Dedek.

1.    Morning Routine :

Dedek, bangun sebelum subuh yuk. Kita sholat malam dan dua rakaat sebelum subuh. Setelah itu kita baca quran. Ma tahu ini akan berat, tidak dulu tidak sekarang. Tapi kita harus belajar lagi dan berusaha bersama ya. Bismillah.

2.    Spare Time :

Dedek, Ma suka buka-buka buku dan mainan benang. Dedek suka nggak? Ma ingin buat banyak hal selama dedek di dalam perut Ma. Semoga Dedek tumbuh menjadi pribadi yang sholeh, cerdas, kreatif, dan inovatif ya.

3.    Being Girl :

Dedek, Ma akan terus belajar menjadi Ibuk. Semoga Dedek dan Ma bisa saling bersabar dalam proses belajar yang tidak akan pernah berhenti ini ya, sejak kamu nempel dan terus tumbuh di dalam rahim Ma. Ah Dedek, Ma selalu terharu kalau bahas tentang kehadiran kamu di perut Ma. Ma merasakan karunia Allah yang luar biasa terlahir sebagai perempuan dan diberi kesempatan berharga ini, mengandung jabang bayi, Kamu.

4.        Pocket Money :

Dedek, Ma masih terus meraba-raba, bagaimana cara mengelola keuangan yang baik. Tentunya sekarang ada alokasi-alokasi dana untuk keperluan-keperluan bersama Ayah dan Kamu.

5.    Relationship : 

Dedek, banyak yang berubah sejak Ma menikah dengan Ayah. Keluarga besar sekarang jadi semakin besar. Yuk kita jaga bersama. Insya Allah. Semoga Allah selalu hadir dan kita hadirkan dalam setiap langkah hidup kita ya, Dek. Aamiin.

Friday, 8 February 2019

SIBUK ITU BAIK



Salah satu target tahun kedua, tahun 2019, dalam target 5 tahunan saya adalah “bekerja”. Yup, working with people. Kenapa baru sekarang? Kenapa nggak dulu-dulu aja? Ya karena  baru sekarang pengennya, baru sekarang siapnya, baru sekarang I finally decide to be part of the society.  Satu bulan kemudian, adakah hal-hal yang berubah? Ada dan memang harus ada. 5 hal pertama yang jadi beda adalah…

1.    Morning Routine : Kegiatan setelah sholat shubuh jadi jauh dari tidur lagi. Jadi terpaksa setrika dan cuci baju plus working out sometimes. Haha
2.  Spare Time : Aku yang anaknya gampang ngantuk (dan lapar) jadi harus atur waktu biar bisa tetap happy (nonton vlog favorit, memenuhi target baca buku, mainan benang, dan nulis blog) setelah jam kerja usai.
3.    Being Girl : Dulu sulit mencari alasan yang tepat untuk pakai sepatu cewek. Sekarang, ada alasan beli dan pakai sepatu cantik.
4.    Pocket Money : Harus belajar hidup dari uang jajan sendiri. Harus pandai menahan diri nggak beli banyak buku.

Terakhir (untuk sekarang) yang paling penting adalah…

5.      Relationship : Mengikuti jadwal kerja, sholat jadi lebih teratur, terutama sholat dhuhur jadi di awal waktu hehe, tapi kalau tugas di luar kantor harus hati-hati jaga waktu.


#mogaberkah
#worthit
#jaganiat


Tuesday, 5 February 2019

LONG STORY SHORT

It’s now almost 1 year since my dramatic graduation on February 21, 2018. Long story short, I am now part of the government. I work for The Department of Agriculture and Food of Trenggalek. Yes, I am working in my favorite town. The town that is written in my birth certificate. It’s almost been a month I am sitting behind the table. I am trying to create my other comfortable zone there and still working on setting the best daily schedule so that I can still have an intimate time with my books and yarn.



Friday, 13 April 2018

THE POSTCARD (2)

Waaa… a lot has happened in my life… now is time to share it with you again…
Long story short (next writing material) I have finished my school life for now.
Going back to society and moving on.

Materi pertama dalam “comeback” saya kali ini adalah seputar update terbaru dari dunia persilatan postcrossing yang saya jalani beberapa bulan ini. Hmm.. memang belum banyak yang saya kirim dan terima. Sejauh ini ada 8 kartu pos terkirim dan diterima dengan selamat oleh sahabat pena nun jauh di sana. Ada juga 1 yang keselip entah di mana dan tak pernah sampai. Sementara ini  Pak Pos sudah cukup sering berkunjung ke rumah mengantarkan 12 kartu pos dari berbagai belahan dunia. Wohooo... Pengen deh besok kalau ada yang antar lagi bisa ketemu Pak Pos secara langsung terus bilang “makasih, Pak”. J Karena biasanya selalu diselipkan di bawah pintu.


Jadi guys, saya gabung di postcrossing.com dan anggota terbanyak yang aktif berasal dari Amerika, Rusia, Jerman, dan Taiwan. Nah, gegara (bahasa Kirana yang mulai populer di kalangan sendiri) itu kebanyakan saya kirim ke dan terima dari ketiga tempat itu. But sure, so far seru deh bisa baca pesan-pesan dari tempat yang jauh. Beberapa cerita tentang hobi dan minatnya, terus yang lain nulis tentang tempat-tempat seru dan bersejarah di negara mereka. Kalau aku sih kemarin nulis kegiatan sehari-hari dan hobi. Oh ya, sebelum sidang skripsi saya minta didoain juga biar lancar. Haha. Apa aja yang waktu nulis lagi di pikiran ya itu yang saya tulis. Kegiatan ini juga bikin inget si Christopher Johnson McCandless. Dia kan sering berkirim postcard ke sahabatnya Wayne. Well, I may have no courage to travel like him, but no reason to not to connect to the world. Oh ya, dalam film “Loving Vincent”, Vincent van Gogh juga diceritakan suka kirim postcard dan surat ke saudara laki-lakinya, Theo. See, selembar kartu pos yang hendak dikirim Armand Roulin menuntunnya ke perjalanan menemukan kisah hidup Vincent dan Theo van Gogh yang ternyata… menarik (baca sendiri ya kisah mereka, kalau sempat dan nemu filmnya, tonton deh, sukaaa).



Sejauh ini saya paling suka kartu pos bertema sejarah dan seni seperti 5 kartu pos dari 5 negara berbeda berikut.



Sewaktu ke Togamas Yogyakarta saya menemukan kebahagiaan selain buku dan ia berbentuk kartu pos unik dan menggemaskan berikut. Kartu pos produksi Tukartu Postcard ini bertema budaya Indonesia dengan penjelasan berbahasa Inggris di halaman untuk menulis pesan. Membantu banget pas bingung mau tulis pesan apa. Tinggal tulis alamat tujuan, tempel perangko, kirim deh. Desainnya itu lho… gemazzz….



Last but not least, waktu beberes barang-barang nemu kartu pos dari sepupu sewaktu dia sekolah di Mesir. Yeaaay… betapa bahagianya… punya banyak teman, betapa senangnya.. (eh lha malah nyanyi.. haha). Oke, jadi di dalam amplop ada surat dan 2 kartu pos masih utuh yang dikirim tahun 2005. Suratnya cerita tentang gimana cara naik haji kalau berangkat dari Mesir. Kalau membaca isi surat ini kayaknya sih sebelumnya saya kirim surat dulu dan tanya perihal perjalanan haji ini. Semacam surat balasan gitu. Haha. Udah lupa, ternyata kehidupan surat-menyurat saya sudah dimulai sejak cukup lama.



Ojeh (ikut-ikutan bahasa Hobri “Sirkus Pohon-Andrea Hirata”) segitu dulu cerita-ceritanya… Happy Postcrossing!

#connectingtotheworld
#talkingtopeople
#globalcitizen

Thursday, 28 December 2017

CAN WE TALK?

말은 사람의 입에서 태어났다가 사람의 귀에서 죽는다. 
하지만 어떤 말들은 죽지 않고 사람의 마음속으로 들어가 살아 남는다.
( 운다고 달라지는 일은 아무것도 없겠지만 by 박준 )

When listening to someone:

1.       Yes or no. We have to be clear whether we would listen to what other people will say. Ketika seseorang memutuskan untuk mengatakan sesuatu kepada kita, pastilah ia berharap agar didengarkan. Maka jika kita memang benar-benar sedang tidak ingin mendengarkan, katakan saja tidak. Ketika dirasa pembicaraan ini penting, maka… (perhatikan langkah berikutnya).

2.      Pay attention. Listen not only with ears but with all part of our body. Saya yakin kalau semua orang pasti senang jika lawan bicaranya memperhatikan dengan baik saat ia sedang berbicara. Berikan perhatian kita sepenuhnya dengan tidak melakukan hal lain saat mendengarkan seseorang berbicara seperti sibuk dengan ponsel atau pekerjaan lainnya. Jika perlu tatap matanya (paling tidak, kita tidak sedang melakukan hal lain). Hal tersebut juga sebagai bentuk menghargai orang lain.

3.       Just listen until we need to talk. Mendengarkan bukan pekerjaan yang mudah sebab terkadang seringkali ketika lawan bicara belum selesai menyampaikan pendapat, kita sudah terburu-buru ingin menunjukkan bahwa kita memahami masalah yang dibicarakan dan ingin segera menyampaikan pendapat kita. Jangan sampai kita menyela lawan bicara, baik itu dengan kata-kata atau perubahan ekspresi wajah yang tiba-tiba (terutama ekspresi tidak sependapat atau yang menunjukkan sikap meremehkan), tunggulah hingga dia meminta pendapat kita.

When talking to someone :

1.       No one can actually make us sad or happy. Jangan memulai suatu pembicaraan dengan anggapan bahwa semua orang akan memahami kita, tapi niatkan untuk melihat masalah dari sudut pandang lain. Jadi kalaupun orang tak sependapat dengan kita, tidak akan mudah timbul pertengkaran. Kita juga jadi tahu mana yang sependapat dan tidak dengan kita.

2.      A conversation between two people is not about you tell them, it’s about we try to understand each other. Berbicara dengan orang lain bukan untuk menonjolkan pendapat kita, tapi untuk mencoba saling memahami.

3.       A good conversation is talking about the matter itself, not about you nor about me. Sebaiknya tetap berfokus pada hal paling penting, yaitu permasalahan yang sedang dibicarakan. Tidak melebar pada pribadi yang membicarakan atau dibicarakan. Takutnya akan menjadi ghibah atau fitnah.

4.      Don’t forget to say “thank you” when we find something amusing or make us happy and “sorry” when we think the other party seems uncomfortable or we think would be so. Tolong, terima kasih, dan maaf adalah tiga kata ajaib yang tetap penting disampaikan dalam percakapan jika dibutuhkan untuk menjaga rasa nyaman. Tidak perlu gengsi atau sungkan bahkan merasa tidak perlu. Sebab dalam sebuah percakapan, hanya dengan berbicaralah kita bisa saling memahami maksud satu sama lain.


5.    Just be honest with what we are feeling and thinking about, especially when we feel comfortable enough. Sebuah percakapan atau pembicaraan tidak selalu ingin mencapai hasil sepakat. Maka santai saja kalau pendapat kita berbeda. Tidak perlu memaksakan orang lain untuk menjadi sama atau sebaliknya kita tidak mudah mengiyakan pendapat orang lain. Belajar untuk teguh pendirian tetapi tidak kaku dan tetap mendengarkan serta menelaah pendapat orang lain. 

Wednesday, 8 November 2017

THE POSTCARD BEGIN

first coming from Germany

Tahun lalu, berpanas-panas, kami berboncengan menuju kantor pos terdekat dengan semangat yang besar untuk belajar mengirimkan kartu pos pertama kami dan pulang dengan harapan yang tinggi akan segera datang balasan dari si penerima.
Yup, kira-kira begitulah cerita siang itu bersama adik-adik @tamanbacalebah.

Lalu tibalah suatu hari ketika seorang kawan mengajak berkirim surat. Kids zaman jigeum mungkin akan bilang gini, “Hello, jaman gini nulis surat terus dikirim pakai perangko?”. Hey, jangan salah, fashion trend aja muter-muter terus. Mentok di 2000-an, balik lagi ke 90-an, 80-an, 70-an, bahkan zaman purba. Iya nggak?

Long story short, tidak ingin menyia-nyiakan hasil belajar siang itu, akhirnya saya coba mengirim kartu pos ke kawan itu dan sekalian juga ke adik (yang udah bisa dipastikan akan malas membalas lewat pos juga, dia bilang mau balas lewat WA aja). Keduanya sama-sama di Jawa Barat. Tapi sampai hari ini, surat adikku saja yang telah sampai. Nanti kukirim lagi ya sist.. hehe. Mungkin kartu pos yang tipis dan murah itu keselip. I’m so sorry.

Ya, walaupun yang ngajak malah belum dapat kiriman, tapi jasanya tidak akan pernah kulupakan. Haha. Eh, iya, beneran, sebab karena awalan tak sengaja itulah akhirnya di kemudian hari saya bergabung dengan postcrossing.com dan mulai sering-sering beli perangko dan kirim kartu pos. Bukan lokal, tapi internationally! Biasa aja yah? Well, whatever.

Belum ada 2 bulan sejak saya mengirim kartu pos pertama ke luar negeri. Awalnya? Hmm, jangan ditanya, excited, pake banget. Mulai dari cari-cari penjual kartu pos (saya beli di @kotak.pos, cek aja IG nya), bingung gimana cara beli perangko (maklum ya, nggak pernah seumur-umur) dan harus beli berapa supaya sampai tujuan, dan belum lagi buka-buka kamus buat nulis pesannya. Tapi, hey, saya suka memikirkan betapa serunya mendapat kiriman tak terduga dari orang asing di antah-berantah yang tak pernah berjumpa.

Kata orang kan, kalau nggak salah denger, kita harus bermimpi setinggi-tingginya. Sebab kalau pun harus jatuh, masih ada kemungkinan nyangkut di pohon yang at least masih lebih tinggi dari genteng rumah. So, walaupun belum pernah nih orangnya ke luar negeri, minimal tulisan tangan saya sudah jalan-jalan jauh.

Sementara ini tulisan saya sudah pernah dibaca secara langsung di Amerika, Rusia, dan Republik Ceko. Yang lain masih dalam perjalanan ke Cina, Polandia, dan Jerman. Yeay! Terima kasih sudah sudi menerima dan menyimpan obrolan tidak penting itu. Oh ya, dan hurray! Satu kartu pos dari Jerman telah sampai ke rumah. Danke! Terima kasih sudah meluangkan waktu memilih dan membeli kartu pos dan perangko, lalu menuliskan pesan singkat itu dan harus gerak ke kantor pos untuk mengirimkannya. Terima kasih juga Pak Pos yang mau gerak mengantar sepotong kertas ini hingga sampai dengan selamat ke rumah saya.

Mari menabung.. eh salah, mari saling menyapa and encouraging one another.

ps: saya kirim kartu pos (yang sudah sampai) ke Amerika pake perangko 10000, rusia dan republik ceko 7000 


#antimager #ayolulustruskerja #talkingtomyself

Monday, 9 October 2017

WORLD POST DAY 2017


Dunia terlalu ramai, tapi mau bagaimana lagi, harus tetap ditinggali.
Dunia terlalu sempit, tapi mau bagaimana lagi, harus tetap dijelajahi.

People! Happy World Post Day 2017!
Happy postcrossing!

Sunday, 17 September 2017

CAN’T LIE: MASIH ANAK SENI RUPA

Guys, my hand can’t lie…

So, thank you for the 100K followers on my instagram @septianajaya.m
Can you believe it? You better check them out yourself J

By the (almost) end of this beautiful year I decided to rearrange my instagram feeds. It doesn’t mean I will put aside the earlier pictures. I will just post the later feeds in different style.

 picture of me and my fortunate thumb, the almost can’t move thumb

27 years to go,  I think I can drive my hand to a different path, but fortunately, yes fortunately, it goes back to its original desire, and what is that? ART. Well, all I can say is, it’s the first time of everyone’s life, so I think this (almost) 27 years is not a guarantee for a human like me to finally understand myself. But I promise I’ll keep on track.

I don’t know what will happen tomorrow but all I know is now I am into my drawing notes again. Pretty simple. I use “Notes” apps. Yes, the one you have in your smartphone. Every night before going to bed I try to summarize that one-day-experiences into one or two illustrations and write the most suitable captions I could think to translate the pictures into words. Although picture talks more than words. J Then, edit it if necessary and post it the next morning (thank you for the generosity of my campus who shares the internet access).

Well, that’s just my super little part of adventure. My second cascade is knitting. I’ll tell you next time about me who wants to be known as “the girl who knits on train”. Haha..  

In summary, I love everything borns from my hands and much more respect for the artists, crafters, and content creators out there. See you…

I love every moment with you
And I want you to know I do
I’m alive..
 yeah I’m alive..
(Love Every Moment  by Thom Franck, Jacob Wellfair, and Jamie Elder)

#notes #sketch #artdicted #iamme #dalivanpicasso 

Monday, 11 September 2017

PUBLIC TRANSPORTATION DISCIPLINE

Stasiun Lempuyangan pukul 3 pagi

Hi, I'm the girl who knits on train (Kahuripan) Haha, nice to meet you.. 
kindly check my work on instagram @wol_knit and my sketch @septianajaya.m


I used to like riding bus, but recently I prefer having journey on train. I'll tell you why.. It's thrilling... Train, I'm back!

Kapok? Nggak. Bukan karena kapok naik bus Jawa Timur yang lebih sering muter lagu dangdut (oh please, I prefer RnB and hip hop, or well let's just listen to the silence)..., tapi karena waktu and lifestyle. Wohooo..

Setelah dulu pernah ketinggalan kereta beberapa kali, saya jadi lebih memilih naik bus yang jadwal berangkatnya lebih fleksibel. Yup, bus Jogja-Surabaya PP ada terus, 24 jam, ya tentu dengan segala resiko kebut-kebutan kalau jalan malam. Jadi, kapanpun pas tiba-tiba pengen pulang, bisa langsung cuss tanpa harus repot pencet-pencet pesenan online atau ngantri beli tiket di stasiun, dan kadang kehabisan.

Namun demikian, kita tidak tahu apa yang akan kita lakukan esok hari, apa yang akan kita suka dan tidak suka esok pagi. Preferensi saya balik lagi ke moda transportasi massa berjenis kereta api asuhan PT. Kereta Api Indonesia, terutama untuk perjalanan ke kota yang cukup jauh dan dilalui kereta api. Alasannya?

Suatu hari ada Si Ilham yang ngetuk-ngetuk pintu kamar kos. Setelah pintu saya buka, Si Ilham pun membagi pemikiran ini. Bahwa pilihan alat transportasi kita menunjukkan bagaimana kita ingin menjalani hidup yang super pendek nan penuh onak dan duri ini. Wuih, daleeem.

Nah. Bus selama ini memberikan lebih banyak keleluasaan pada saya dalam memilih jam keberangkatan, tidak seperti kereta yang pilihannya lebih terbatas baik jadwal maupun kursinya. Tetapi hal itu ternyata tidak mendidik saya untuk well prepared. Dengan kembali menggunakan jasa kereta api berarti saya harus lebih awal merencanakan waktu keberangkatan, lalu kapan, dimana, dan bagaimana harus memesan tiket. Saya juga harus menyesuaikan jam berangkat dari kos atau rumah agar bisa tepat waktu sampai di stasiun, lalu mencetak boarding pass dan akhirnya bisa naik gerbong. Jadwal sampai di kota tujuan juga hampir bisa dipastikan (pelayanan PT. KAI sekarang kan udah joss), sehingga memudahkan perencanaan perjalanan selanjutnya.

Mohon maaf, bukan bermaksud mengesampingkan bus atau mengatakan bahwa pengguna jasa bus tidak belajar disiplin. Well, it’s just me and my life. Ini hanya pandangan dan pengalaman saya saja tentang apa yang sepertinya lebih cocok bagi kesehatan jiwa dan raga saya. Loh. Haha. Tapi naik kereta juga lebih nyaman sih, dilihat dari segi ketepatan dan kecepatan waktu perjalanan. Pintar-pintar pilih gerbong yang sesuai kantong aja dan bikin perencanaan jauh-jauh hari.

Udah, sekian aja. Selamat jalan-jalan.
#kapannaikpesawatlagiya



Friday, 4 August 2017

1176 JAM KEMUDIAN

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Salam terindah kusampaikan pada kalian saudara seiman yang telah sudi mampir ke blog yang telah lama tak tersentuh ini. Oh Allah, sudah lama sekali…



Ok, ada berita baik dan berita buruk, mau dengar yang mana dulu? Sama saja lah ya, sama-sama nggak ada pengaruhnya buat yang baca, wkwkwk…

Nah, berita buruknya adalah
           Postingan terhenti selama kurang lebih 7 pekan yang berarti tidak banyak hal progresif yang terjadi pada pemilik akun blog ini. Menyedihkan.

Sedangkan berita baiknya adalah
Dengan kembali mengudaranya tulisan di sini, menandakan bahwa pemilik akun juga akan kembali aktif berbagi informasi dari yang dianggap penting sampai yang dianggap lebih penting lagi, sebab penting itu relatif. Wis… opo lah, pokoke ngono, rek.

Sudah begitu saja sementara ini.
ps: I’m reading The Old Man and The Sea, kunjungi dan jangan lupa follow @septianajaya.m 

                

Sunday, 18 June 2017

CATATAN RAMADHAN [2]: Ramadhan Goes Online

Langit Jogja pagi hari: 23 Ramadhan 1438 H


Gimana nih kabarnya? Kejar terus ya target Ramadhanmu...

Siapa yang belum punya aplikasi ojek online di smartphone-nya? Sayaaaaaa. Tapi bukan berarti saya belum pernah naik ya. Pertama kali pakai jasa ojek online adalah waktu menuju ke Stasiun Senen, Jakarta. Sekarang kan sudah lebih canggih lagi tuh. Tidak hanya motor, tapi juga ada mobil, pesan antar makanan, dll. Itu lho.. kayak di channel sebelah..

Nah, di Ramadhan tahun ini lah pertama kalinya saya merasakan naik taksi online. Berasa orang kaya, dari kampus mau ke kontrakan aja bisa ganti mobil 2 kali. Ndeso ya, haha.

Siang itu, saya dan seorang teman yang sama-sama tak punya motor memilih menggunakan jasa taksi online karena jauh, panas, dan bawa banyak kardus. Kardus kosong buat packing barang-barang. Untunglah dia punya aplikasinya dan punya deposit buat bayar ongkosnya.

Pencet-pencet-pencet, dan... uwala... sampailah kami di tujuan.
Nggak langsung pulang, tapi mampir supermarket dan belanja dulu. Terus...

Pencet-pencet-pencet lagi, dan... sampailah kami di kontrakan.
Kalau dulu ada jaman megalitikum, abad ini adalah jaman megajempolum. Perlu apa aja tinggal pencet pake jempol. Dijaga dan dirawat baik-baik ya jempolnya J
***

Siang itu, mukena belum dilepas rapi, tapi kami sudah serius berdiskusi. Nanti menu makannya apa ya? Hoho, begitulah orang yang berpuasa. Ba’da dhuhur udah mikir nanti pas buka mau makan apa. Usulan muncul, lalu...

Jempol pun kembali beraksi.

Setengah lima sore, handphone kawanku ramai telpon masuk dari satu driver ke driver lainnya yang tanya dimana tepatnya posisi rumah kami. Kami pun bersiap menyambut datangnya makanan-makanan yang dipesan. Tom yam kepala ikan, ayam goreng kremes, dan makaroni pedas. Oops, maaf ya, kuatkan iman bagi yang baca part ini siang-siang J


Sebanyak menu yang kami pesan, sebanyak itulah tukang ojek yang datang. Satu datang dari timur, yang lain dari barat, dan satu lagi harus dikejar-kejar ke ujung gang karena bablas aja nglewatin kontrakan.

Oh iya, masa-masa berbahagia berburu takjil di masjid-masjid sekitar kampus sudah lama berlalu bagi kami. Biarlah sekarang menjadi jatah bagi adik-adik kami. Haha.

That's it. That's how my Ramadhan goes online this year. 
Hayo, nanti sore mau buka pakai apa?
***

Epilog:

Pengantar pertama datang. Tergesa-gesa turun dari motor dan meminta maaf karena aplikasi maps yang kemungkinan eror sehingga bingung mencari alamat dan akhirnya agak terlambat. Kami yang celingukan di depan pintu ragu-ragu bertanya,

“Ini yang ayam ya, Pak?”

Air muka Si Bapak langsung berubah. Dalam hati mungkin langsung berkata: aduh ya ampun salah alamat nih, padahal udah seneng akhirnya ketemu juga rumah ini.

“Oh, ini... kepala ikan.”

“Nah, iya Pak, betul.”

Si Bapak langsung lega. Tunai sudah tugasnya. Hahaha. 
Nggak tau lah Si Bapak ini kalau kami juga menunggu pengantar yang lain.