Labels

Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Thursday, 2 April 2020

"AKU DAN BUKU #2"

Perempuan-Perempuan yang Mencintai Buku



Penulis: 
Ale Siregar, dkk
Genre:
Non-Fiksi
Penerbit:
Radio Buku Yogyakart
Terbit:
September 2017
Tebal: 
171 halaman

“Buku ini lahir dari proses belajar bersama selama tiga purnama dalam Kelas Radio Buku yang diselenggarakan secara berkesinambungan. Kegiatan yang dituntun secara ketat oleh kurikulum berbasis akademi komunitas ini menjadikan buku ini sebagai bukti lulus atau “ijazah” bahwa pembelajar telah menyelesaikan proses belajar bersama tentang tiga laku utama: membaca, mengelola-memproduksi informasi, dan menulis.”

Kutipan di atas mengawali perkenalan dengan buku yang dicetak terbatas ini. Beruntung sekali saya masih diperkenankan oleh kakak-kakak Radio Buku yang baik hati dan tidak sombong untuk mencetak nama dalam “ijazah”. Karena saat proyek ini berjalan, saya kabur karena sok menyibukkan diri di kampus. Hehe. Setidaknya kan nanti bisa jadi bahan cerita ke anak cucu. J

Asing tapi menyenangkan. Itulah kesan selama belajar bersama teman-teman baru di komunitas Radio Buku. Saya lupa awalnya bagaimana bisa mendapat informasi tentang magang di markas booklover ini. Tapi saya bersemangat sekali ingin belajar hal baru saat itu. Niat utama saya adalah membebaskan diri untuk berani mengenal lingkungan baru dan memperluas wawasan terutama yang bersinggungan dengan manusia-manusia yang mencintai buku.

Buku ini berisi pengalaman membaca 19 perempuan tentang buku-buku yang berpengaruh terhadap diri dan kehidupan mereka. Bagi saya sangat menarik ketika perempuan dan buku dipertemukan. Perempuan adalah madrasah alias sekolah pertama bagi anak-anaknya, maka menurut saya sangatlah penting bagi perempuan untuk selalu belajar. Salah satu media belajar adalah buku. Bacaan. Wawasan ibu yang luas pasti akan berpengaruh terhadap proses belajar anak. Anak akan lebih mudah akrab dengan buku jika orang tuanya juga suka membaca. Sebagaimana dituturkan dari pengalaman masa kecil perempuan-perempuan dalam buku ini.

Membaca buku ini secara tidak langsung juga bisa jadi referensi bagi yang sedang bingung ingin membaca buku apa. Seperti misalnya judul yang paling sering disebutkan berpengaruh di jaman kecil mereka yaitu Lima Sekawan karya Enid Blyton. Judul buku yang seingat saya belum pernah saya baca dan jadi pengen baca.

Saat membaca buku ini saya diingatkan lagi dengan dua judul buku yang menurut saya cukup berpengaruh bagi saya dalam memandang dunia dan bersikap. Mereka adalah Winnetou 1 yang dengan rajin saya baca saat istirahat sekolah di SMA dan Chicken Soup for the Soul yang jadi salah satu buku favorit di masa SMP. Sebenarnya masih banyak buku lainnya (pernah saya sebutkan di sini https://isi-tas.blogspot.com/2016/02/the-girl-and-pile-of-books.html) karena saya yakin bahwa sedikit atau banyak, setiap apa yang pernah kita baca memiliki pengaruh terhadap pemikiran kita.

Ya, memang se-keren itulah buku. Yuk membaca!


Friday, 20 March 2020

"PERSALINAN MARYAM"



Penulis: 
Mugi Rahayu
Genre: 
Non-Fiksi/Islam
Penerbit: 
Pradita Utama (PrayU) Yogyakarta
Tahun terbit: 
2019
Tebal: 
236+ halaman

Sebagaimana judulnya, buku ini membahas proses persalinan Maryam binti Imran seperti tertulis dalam Al-Qur’an, tetapi buku ini bukan tafsir melainkan sajian hikmah dari peristiwa tersebut. Pertemuan dengan buku ini terjadi tanpa sengaja. Tanpa saya mencari-cari. Seorang teman yang berjualan buku memposting status WA tentang pre order buku ini. Pas sekali momennya.

Saya baca buku ini karena memang sedang dalam masa-masa mencari dan mengumpulkan ketenangan dan kekuatan hati menghadapi persalinan yang insya Allah akan segera terjadi (Alhamdulillah saat tulisan ini saya posting, Anak Bayi sudah berusia 20 hari). Selain mendapatkan pengetahuan tentang hamil dan persalinan dari orang tua dan kerabat, saya juga membaca dari sisi ilmu pengetahuan, dan terakhir yang terpenting secara psikologis saya mengumpulkan keberanian dengan bacaan seperti buku ini.

Menurut saya, buku semacam ini sangat penting untuk mengimbangi beragamnya informasi seputar kehamilan dan persalinan yang dapat dengan mudah kita dapatkan di internet. Terkadang karena banyaknya informasi itu, kita jadi bingung atau bahkan tambah khawatir karena tanpa sengaja membaca tentang kasus-kasus dalam kehamilan dan persalinan. Sementara itu bagi saya, buku ini dapat menetralkan kembali perasaan dan pikiran saya sebab buku ini membahas dari segi hikmah Al-Quran. Tulisan ini kembali mengingatkan bahwa segala sesuatu itu terjadi hanya atas ijin Allah semata. Bahwa menjadi seorang ibu dan segala proses yang dilaluinya adalah bentuk jihad seseorang yang terlahir sebagai perempuan. Bahwa berpasrah, tawakkal, percaya kepada Allah adalah senjata paling ampuh setelah segala upaya untuk mendapatkan ketenangan, kekuatan, dan keberanian menghadapi apapun yang harus dilalui. Sebagai seorang muslim afirmasi positif seperti yang tertulis dalam buku ini yang memang sedang saya butuhkan saat itu.

Dari segi penulisan, buku ini enak dibaca, mungkin karena merupakan penuturan dari seorang ibu yang juga seorang bidan. Sayangnya, masih banyak kesalahan ketik alias typo dan ada dobel paragraf. Walaupun tidak mengurangi esensi dari isi tulisan, tetapi bagi saya cukup mengganggu saat membaca.

Saat akhirnya saya menjalani proses melahirkan secara normal atas ijin Allah, saya belum selesai membaca buku ini. Tetapi Alhamdulillah bagian tulisan yang penting dalam menghadapi persalinan sudah sempat saya lahap dengan nikmat. Saya mencoba terus mengingat sosok wanita suci Maryam yang melahirkan Isa tanpa bantuan siapapun, hanya dibersamai oleh Jibril, tetapi begitu sabar bahkan dalam kondisi difitnah oleh kaumnya. Alhamdulillah, berkat sempat mengisi pikiran saya dengan membaca kisah Maryam ini, setiap rasa yang indah menjelang dan saat persalinan bisa saya hayati dan berakhir dengan syukur luar biasa. Masya Allah.

11 hari menjelang persalinanku

Sekarang bukunya sudah selesai saya baca. Boleh banget lho kalau ada yang mau pinjam atau bisa membeli melalui akun instagram: kutukubukujogja.

Selamat belajar, Moms..

#persalinanmaryam
#ibuhamil
#bumil
#ibudanbayi

Monday, 11 February 2019

"WHAT TEACHERS MAKE"

sumber: www.amazon.in

Saya beli buku ini di Surabaya saat pertama kalinya menjadi bagian dari Big Bad Wolf Sale.

Sudah niat mau beli buku cerita anak dan/atau buku non-fiksi. Karena saya memang lebih suka baca buku non-fiksi. Setiap baca ulang selalu ada pelajaran baru yang bisa didapat. Sedangkan kalau fiksi, setelah tahu alur ceritanya, sudah, selesai, malas baca ulang lagi, kecuali novel Bahasa Inggris yang niat membacanya adalah juga untuk memperkaya kosa kata. Bisa berulang kali nih bacanya. Hehe.

Nah, salah satunya ketemu lah dengan buku mungil ini. Pas banget saya sedang suka tema pendidikan anak. Lalu baca daftar isi dan ada bab yang mengikutsertakan kata “Insha Allah”. Langsung mikir, oh buku apa ini? Apakah penulisnya muslim? Pendidikan muslim di Amerika? Penasaran, beli deh. Apalagi setelah baca puisinya yang fenomenal itu (What Teachers Make), bagus isinya. Silahkan cek pembacaan puisinya di channel youtube Taylor Mali.

Jadi, siapakah Taylor Mali? silahkan langsung cek di website beliau taylormali.com




Membaca bab Introduction dan Chapter 1 membuat saya sekali lagi bisa mengatakan bahwa:

“writing is once again proved to be one of the best way to share and
at the same time to keep good memories”

and

this is why I love learning English or other language because I can learn more from people outside my world, people with different culture and experiences”

Ya betul, buku ini adalah semacam penjabaran dari puisi yang dia tulis. Mr. Mali membagikan pengalaman-pengalaman menarik saat di dalam kelas. Cocok sekali sebagai bahan bacaan dan inspirasi bagaimana mendidik bagi para guru, atau mereka yang sedang kuliah keguruan, yang bercita-cita menjadi guru, bahkan bagi mereka yang masih bingung mau kerja di bidang apa. Pokoknya cocok untuk mereka yang memiliki minat tentang masalah pendidikan.

Banyak juga kutipan tentang pendidikan dari tokoh dunia dibagikan dalam buku ini. Salah satu yang menggugah adalah kutipan Richard Bach (penulis Amerika) sebelum memulai bab The Student Becomes The Teacher:

“you teach best what you most need to learn"

Buku ini memberikan sedikit gambaran tantangan hidup sebagai guru di Amerika pada jaman itu (ketika buku ini ditulis). Anggapan bahwa guru adalah profesi yang kurang menarik dan kurang menjanjikan secara finansial ternyata juga terjadi di negara semaju Amerika, apalagi kalau dibandingkan dengan kehidupan pendidik di negara tercinta kita ini. Semoga selalu semangat berjuang untuk kalian yang mencintai dan peduli pada pendidikan generasi penerus bangsa!

#happyreading
#respectteachers

Saturday, 5 January 2019

"JURU BICARA"


Penulis : Pandji Pragiwaksono
Penerbit : Bentang
Tahun terbit : 2016
Tebal : 182 halaman

Buku cetakan 2016 ini akhirnya saya beli akhir tahun 2018. Buku Pandji yang pertama saya baca. Buku pertama yang selesai saya baca (dalam satu hari) di tahun 2019 tepatnya tanggal 5 Januari. Pas banget jadi pembuka tahun penuh perhatian ini. Ketika saya sebagai seorang dewasa diharuskan (memang seharusnya) belajar sebelum mengambil hak sekaligus melaksanakan kewajiban sebagai warga negara Indonesia untuk memilih pemimpin. Untuk informasi, Pandji akan menerbitkan buku baru di bulan Maret yang akan membahas pengalamannya terjun di dunia politik. Sepertinya saya akan beli dan baca juga yang ini. Insya Allah.

Tulisan Pandji bisa dibaca di laman blog-nya Pandji.com. Tetapi bagi saya punya buku fisik itu masih tetap lebih asik. Saya baru “kenalan” dengan Pandji lewat video-video di kanal youtubenya yang akhir-akhir ini banyak saya dengarkan dan subscribe (karena subscribe itu gratis, hahaha). Kenapa saya mulai mendengarkan dia? Karena sebagai orang awam saya mendapatkan informasi-informasi cukup penting (bagi saya) yang disampaikan dengan menarik. Mungkin juga karena saya suka gaya bicara dan gaya penulisan yang kritis tapi santai. Inilah buku kedua yang setelah membacanya membuat saya ingin menulis lagi. Menulis apa saja, sebab “Jangan pernah menganggap remeh apapun yang Anda tahu. Sebab di tangan orang lain, informasi itu bisa jadi penting” (bab: unless, halaman 4).

Nah, apalagi dia suka bahas isu-isu Indonesia terkini. Saya jadi ada bahan buat mikir. Jadi ada bahan untuk bilang “Oh ya? Jadi gitu? Koq aq nggak tahu ya. Kemana aja selama ini. Ini orang ngomongin siapa sih. Bener juga dia. Ah, tapi nggak sepakat sama yang ini. Haha, lucu ni orang”. Yah, semacam itulah. Beberapa video lain sejenis yang lebih enak didengarkan daripada dilihat adalah Dunia Manji dan Gita Savitri Devi di segmen PagiPagi dan Beropini. Untuk podcast bisa deh coba dengerin Podcast Subjective dari Iqbal Hariadi atau Sheggario punya Ario Pratomo.

Oke, balik ke buku.
Ini dia beberapa bagian favorit saya dari buku ini:
Bab favorit:
“Unless”
Bab ini yang membuat saya balik kanan pengen berbagi pengalaman lewat tulisan lagi.
“Belajar dari Seinfeld”
Baca bab ini dan bab “Come Out and Play” saya jadi ingat kenapa saya jadi suka nonton bola. Karena saya akhirnya menangkap pelajaran penting bahwa ketika kamu gagal menggiring bola bahkan melakukan kesalahan fatal semacam melakukan gol bunuh diri, kamu harus tetap kembali fokus bermain untuk menang hingga peluit akhir berbunyi. D**n.
Kutipan favorit:
“orang jahat akan menang kalau semua orang baik membalas dendam dengan cara yang sama jahatnya.” (halaman 39)



*Buku sebelumnya adalah Citizen Journalism karya Pepih Nugraha terbitan Kompas

Thursday, 27 September 2018

"I AM SARAHZA"

pic: gramedia.com

Penulis               : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Genre                  : Novel/Family
Penerbit            : Republika
Tahun terbit    : Cetakan ke-3, Juli 2018
Tebal                    : 370 halaman

Saya suka membaca buku, meskipun sering kali lupa kalau saya suka. Lha! Ya, begitulah.

Menurut saya, penulis dan penikmat buku itu orang yang keren dan kalau satu frekuensi bisa jadi teman ngobrol yang asyik. Sama halnya dengan buku, bahagia pakai banget kalau ketemu dengan bahan bacaan yang sefrekuensi alias seiman. Daan.. saya akhirnya membeli dan membaca buku ungu ini. Secara resmi, setelah tuntas membacanya ba’da shubuh tadi, saya nyatakan buku I AM SARAHZA karya Mbak Hanum bersama suaminya Mr. Rangga ini jadi salah satu buku favorit saya. Terima kasih Mbak dan Mas, sang pejuang tangguh, yang telah membagi kisah supernya. Sekali lagi, saya bersyukur dilahirkan sebagai seorang perempuan dari ibuk dan ayah yang hebat.

Buku ini bukan untuk dibaca perempuan atau ibu-ibu saja tapi cocok dibaca orang tua, anak, calon orang tua, perempuan, laki-laki, istri, dan juga suami. Serius! Karena kalau menurut saya, buku ini tidak hanya berkisah tentang perjuangan mendapatkan keturunan tetapi perjuangan sebuah keluarga agar tetap kembali lurus berjalan di jalan Allah baik dalam keadaan sedih maupun senang. Bagaimana caranya? coba baca sendiri deh, hehe… tapi aku bocorin sedikit nih kutipan nasihat dari Pak Amien Rais agar hidup tetap tenang dan bahagia:
1.        Satu, jaga shalatmu. Shalat itu dibilang tiang agama, tapi juga tiang hidup seseorang.
2.    Dua, Al-Quran itu dibaca dan diresapi, jangan hanya dijadikan pajangan rak. Dibaca nyaring  agar aura rumahmu terkena pesonanya…
3.       Tiga, gunakan waktu luang bahkan ketika kamu melamun dengan zikir.
4.      Empat, sebagaimana zikir, sedekah itu melegakan hati.

Selama membaca buku ini, terutama bab-bab terakhir isinya terharu pengen nangis.. Tapi karena kemarin baca pas di dalam kereta yang penuh penumpang jadinya harus menahan biar nggak nangis beneran. Terus salah juga sebenarnya baca buku ini dalam perjalanan karena bawaannya pengen cepat pulang terus nowel-nowel pipi ibuk. Wkwk. Salut dengan Mbak Hanum dan Mr. Rangga yang dengan piawai memilih dan merangkai kata-kata sehingga kisahnya mudah dibaca dan nilai-nilai hikmahnya bisa masuk ke hati pembaca (terutama saya). Mengingatkan kembali bahwa tugas manusia adalah bersabar dalam usaha terbaiknya.

Apapun yang sedang kawan-kawan perjuangkan, jangan menyerah, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah.


Karena, semua dari kita adalah Sarahza! (Hanum Almahendra, 2018)

Friday, 19 May 2017

"HAPPY LITTLE SOUL"


Penulis:
Retno Hening Palupi
Genre:
Non-Fiksi/Keluarga/Psikologi anak
Penerbit:
Gagas Media
Tahun terbit:
2017 (cetakan ke-5)
Tebal:
202 halaman ++

Alhamdulillah, akhirnya dapat juga buku satu ini di cetakan yang ke lima. Jarang sekali saya benar-benar ingin membeli buku tertentu. Seringnya random saja atau tidak sampai tanya kesana kesini dimana bisa mendapat buku tersebut. Tapi nggak tahu kenapa rasanya nggak pengen ketinggalan punya buku ini. Padahal sebenarnya saya bukan pengikut setia instagram ibuk (agak) muda @retnohening :). Buku ini pun selesai saya baca dalam perjalanan naik kereta pulang-pergi Jogja-Kediri.

Hmm.. meski buku ini cukup mahal untuk kantong mahasiswa yang notabene masih pengangguran, tetapi saya rasa pengalaman yang dituliskan sangatlah jauh lebih mahal. Presentasi dan ilustrasi yang fullcolor dari tim Gagas Media juga ok banget. Terlebih ilustrasi Kirana di sampul depan dan halaman-halaman pembuka bab yang begitu menggemaskan. Ah iya satu lagi, saya suka desain pembatas bukunya. Serasa diintip sama Kirana :)

Mbak Retno bilang ini bukan buku panduan mengasuh anak, tapi menurut saya insya Allah terdapat banyak pelajaran baik dari seorang ibu dengan pengalaman langsung mengasuh anak dalam buku ini. Justru karena datang dari pengalaman sendiri itulah, maka penyampaiannya jadi mudah dipahami. So, bener banget kalau buku ini cocok dibaca untuk semua kalangan, baik yang sudah jadi ibu, calon ibu, remaja, bapak-bapak, mas-mas, semua deh :) Sebab banyak anak-anak dan adik-adik menggemaskan di luar sana yang berhak diasuh dengan cara yang baik agar bisa tumbuh se-ceria Kirana.

Sedikit mengutip pesan dari ibunya Mbak Retno yang bilang, “Sabar, Mbak. Kirana, kan, baru di dunia ini, kita yang harus mengerti dia. Mungkin dia masih harus beradaptasi dengan sekitar. Udara, kegaduhan, suhu, waktu tidur. Kita yang harus sabar.”


Terima kasih buat Mbak Retno yang sudah menulis sehingga saya bisa membaca dan belajar dari pengalaman berharga Mbak :)


Terima kasih juga Tim Gagas Media yang sudah mencetak ulang buku ini hingga sampailah di tangan saya :)

Monday, 1 May 2017

"TOTTO-CHAN: GADIS CILIK DI JENDELA"


Penulis            : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit   : Januari 2017 (cetakan ke-22)
Tebal               : 272 halaman

Sebuah buku lama yang saya baca sewaktu SMA. Saya masih ingat kesan terhadap buku ini, tapi lupa detil ceritanya. Seingat saya buku ini bercerita tentang gadis kecil yang harus pindah sekolah karena keunikan pribadinya sulit diterima oleh para guru di sekolah lamanya. Kemudian ia diterima di sebuah sekolah yang membuatnya nyaman dengan guru yang kreatif dan bisa memahami dunia belajar anak-anak dengan sangat baik. Nah, karena ingatan itu pendek dan saya juga mau belajar lagi bagaimana menghadapi anak-anak dengan berbagai karakternya, bagaimana cara Kepala Sekolah Tomoe Gakuen membuat Totto chan yang selalu aktif mau kembali berkonsentrasi belajar, maka saya putuskan untuk membeli dan membacanya lagi.

Kisah masa kecil Tetsuko Kuroyanagi dan sekolahnya ini membangkitkan jiwa anak-anak sekaligus pembelajaran berharga bagi pribadi dewasa dalam diri saya. Jiwa anak-anak yang ingin belajar dengan bebas, tak takut salah, dan punya rasa ingin tahu yang tinggi. Berperilaku apa adanya dalam usaha mencari jawaban dan kebenaran. Kepolosan dan keriangan khas anak-anak. Sedangkan sebagai orang dewasa, saya harus ikut memperhatikan lingkungan tempat tumbuh kembang seorang anak sehingga ia bisa mengoptimalkan potensi alami yang ada dalam dirinya. Tidak memaksakan ia tumbuh menjadi seperti yang diingingkan orang lain, tetapi tugas orang tua dan guru adalah mengarahkan bakat, minat, dan kemampuan anak menuju pribadi dewasa yang hebat.

Saya suka dengan cara Mr. Kobayashi, pendiri sekaligus kepala sekolah Tomoe Gakuen, berbicara kepada Totto chan dengan selalu mengatakan, “Kau benar-benar anak baik, kau tahu itu, kan?” Tanpa disadari ucapan yang diulang-ulang itu akan membentuk pribadi anak. Betapa pentingnya kita memperhatikan setiap ucapan terhadap anak. Perkataan yang baik akan membuatnya nyaman terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, label yang buruk terhadap pribadi seorang anak akan membuatnya tumbuh tanpa rasa percaya diri. Demikian beberapa pemerhati anak menyampaikan. Tetapi pujian pun sebaiknya juga diberikan sewajarnya, tidak berlebihan. Sebagaimana jika anak-anak melakukan sesuatu yang buruk kemudian menyadari kesalahannya, Kepala Sekolah akan berkata, “Sekarang, minta maaf.”

Saya tidak suka anak-anak tumbuh dengan kebohongan dan juga dimarahi atas sesuatu yang belum ia mengerti. Anak-anak membutuhkan penjelasan yang baik, pelajaran dan pengalaman pertama yang akan mereka ingat selamanya. Saya suka bagaimana Mama dan Papa menyikapi saat Totto-chan ingin memelihara anak ayam. Mama dan Papa menjelaskan alasan mengapa sebaiknya Totto chan tidak memelihara mereka dan apa resikonya jika tetap ingin memelihara. Tidak melarang tanpa alasan. Kemudian saat seorang anak “Lalu.. Uh..” tak bisa berbicara di hadapan kawan-kawannya, Kepala Sekolah tidak lantas marah atau menunjukkan sikap kecewa, tetapi justru dengan sabar membimbingnya hingga akhirnya ia bisa berbicara dan menceritakan sesuatu.

Hmm.. oh ya catatan terakhir, ada dua bab yang mungkin akan saya hilangkan ketika memberikan buku ini kepada anak-anak atau setidaknya mendampingi saat membaca bab tersebut, yaitu “Kolam Renang” dan “Hari Olahraga”. Sebenarnya lebih karena alasan ingin menjaga anak dari pemahaman yang kurang sesuai dengan nilai-nilai agama dan membayangkan hal-hal yang kurang pantas. Penasaran? Hehe, coba baca saja, nanti juga yang paham akan tahu. Peace J . Ini murni pendapat pribadi saja.


Selamat belajar dan berbahagia untuk kalian jiwa-jiwa perindu surga!
Salam hangat untuk guru-guru yang mau terus belajar dan mengajar dengan penuh cinta!
Semoga selalu terjaga dan bahagia untuk kalian anak-anak manis!

Tuesday, 18 October 2016

"PRIBADI HEBAT"

picture source: http://gemainsani.co.id/index.php/web/semua_produkgip/224


Penulis
Prof. Dr. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)
Genre
Motivasi
Penerbit
Gema Insani
Tahun terbit
2015
Tebal
178 halaman

Hal pertama yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah kutipan di sampul belakang, “Dengan apa kita membuat orang menjadi tertarik?”

Saya jarang sekali membaca buku yang sengaja dilabeli buku motivasi. Saya lebih suka membaca biografi orang-orang keren dan belajar dari pengalaman mereka. Tetapi saya akui bahwa membaca karya ini adalah sebuah takdir indah yang berawal dari tugas di kelompok belajar. Sudah terpikir akan membahas buku Buya Hamka tetapi bingung juga mau buku yang mana. Karya beliau yang pernah saya baca sangat sedikit, antaranya, secuil Tafsir Al-Azhar dan di Bawah Lindungan Ka’bah. Akhirnya, malam itu saya bertandang ke kamar sebelah dan menemukan buku ini. Pribadi Hebat. Saya percaya ini bukan kebetulan. J

Buku ini terbit pertama kali dengan judul Pribadi pada tahun 1950 dan cetakan ke-sembilannya dicapai tahun 1974. Meskipun ditulis lebih dari 65 tahun lalu, tujuan dan isi buku yang ingin beliau sampaikan masih sangat relevan karena menyangkut pembicaraan tentang diri pribadi. Saya pikir karya ini adalah sebuah nasihat yang sangat dibutuhkan generasi ke generasi.

Terbaca dengan jelas dalam pendahuluan bahwa Buya Hamka mengharapkan manusia suatu bangsa, khususnya bangsa Indonesia agar dapat menjadi pribadi-pribadi hebat yang akhirnya membentuk suatu bangsa yang hebat pula. “Kemajuan pribadi suatu bangsa dan kemerdekaannya tidak akan tercapai jika belum ada kemajuan dan kemerdekaan pribadi individu”.

Buku ini memberikan penerangan atas pertanyaan, mengapa ada manusia yang bisa melakukan lebih dan menjadi istimewa untuk diperbincangkan terlepas ia orang terkenal atau kalangan biasa. Secara runtut dan tidak terasa menggurui, Hamka menuntun pembaca untuk menemukan kekuatan dalam pribadinya agar menjadi individu yang lebih baik melalui penjelasan yang tidak membosankan dari satu bab ke bab berikutnya. Kita bisa menemukan ulasan dan nasihat beliau tentang faktor apa saja yang memunculkan pribadi, bagaimana menguatkan pribadi, dan hal-hal yang dapat melemahkannya.

Buku yang tidak tebal ini terbagi menjadi 10 bab. Dengan kalimat-kalimat yang menggairahkan, Hamka membuka dengan menjelaskan apa itu pribadi. Manusia tidaklah sempurna, pastilah punya kekurangan, tetapi pribadi seperti apa yang tumbuh atau seharusnya kita tumbuhkan dalam diri kita? Janganlah sampai menjadi pribadi yang kedatangannya tidak menggenapkan dan kepergiannya tidak mengganjilkan (hal 4). Pada bab-bab berikutnya, Hamka banyak menyisipkan contoh tokoh-tokoh dunia yang memiliki daya tarik dalam kepribadiannya, baik tokoh islam, negarawan, hingga penyair, dalam dan luar negeri. Nampak di sini bahwa beliau sangat luas wawasannya dan berpikiran terbuka.

Dari segi cetakan, menurut saya cukup bagus. Tulisannya enak dibaca dan ada highlight kutipan-kutipan penting. Satu hal yang mengganggu meskipun tidak banyak adalah keterangan beberapa istilah atau nama asing tidak ditulis di catatan kaki melainkan diletakkan di endnotes. Jadi harus membolak-balik halaman saat membaca. Kemudian ada juga beberapa kesalahan ketikan.

Demikian kesan saya terhadap buku ini. Berikut saya lampirkan kutipan-kutipan favorit saya dari buku ini.

Halaman
Kutipan
3
Orang Arab berkata, “Apabila sesuatu telah sempurna, jelaslah kekurangannya.”
4
Kedatangannya tidak menggenapkan dan kepergiannya tidak mengganjilkan.
15
Berapa lama perjalanan dari masyrik ke maghrib?
Ali : sehari bagi matahari
Berapa ribu tahun perjalanan dari bumi ke langit, pulang pergi?
Ali : hanya satu detik saja bagi doa yang mustajab
28
Keberanian adalah menunjukkan kesanggupan manusia menempuh hidup, mudah atau sukar.
35
Lukman Hakim mengatakan, tidaklah dapat kita mengenal seseorang melainkan pada tiga waktu:
1.       Tidak dapat diketahui adakah seseorang itu pemaaf melainkan ketika ia marah.
2.       Tidak dapat dikenal orang yang berani melainkan pada waktu berjuang.
3.      Tidak dapat dikenal sahabat melainkan pada waktu susah.
38
Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun, tidak jujur, itu sulit diperbaiki. –Bung Hatta-
41
Lahir, menangis, meninggal.
45
Yang sangat diperlukan adalah bekerja agar orang lain dapat menentukan tempat kita.
110
Bacon mengatakan, “Nyalangkanlah mata waktu berjalan karena di tengah jalan pasti akan bertemu dengan kesempatan. Adapun kesempatan itu sendiri buta. Peganglah dia kuat-kuat. Karena datangnya tidak member tahu, perginya pun tidak pula.”
139
Ketika memukul, hendaklah memukul sampai hancur.
Ketika bertahan, hendaklah menahan pukulan walaupun betapa hebat datangnya.
Siapa yang lebih dulu berhenti, itulah yang kalah.
146
Pujian tidak mengenyangkan perut, celaan tidak membunuh.
155
Yang melemahkan semangat ada dua perkara yaitu prasangka dan hati busuk.
Campurilah masyarakat dan berdiri di tengahnya. Jangan menerawang langit seorang diri.

Ini buku keren… J

Tuesday, 6 October 2015

"EDENSOR"


picture source: layar-tancep.com

Penulis                 : Andrea Hirata
Genre                   : Novel
Penerbit              : BENTANG
Tahun terbit       : 2008 (cetakan ke-18)
Tebal                    : 294 halaman

Mengapa baru sekarang saya baca buku ini?

Saya merasa wajib bertanya demikian pada diri sendiri. Karena, buku ini hebat. Maksud saya tentang cara penulis menggambarkan  setiap kejadian dan perasaan dengan sangat segar. Jenaka.

Buku ini pertama kali terbit tahun 2007. Ah, bagaimana bisa saya baru membacanya sekarang. Tapi begitulah Tuhan telah mengatur indahnya pertemuan kami delapan tahun kemudian, di akhir September 2015. Hahaha.  

Dunia! Berikut bagian-bagian tulisan Tuan Hirata favorit saya dari buku ini.
1.     Halaman 42-43
Tidakkah paragraf ini menggetarkan dan penuh provokasi?

Aku ingin hidup mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakat matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! ingin merasakan sari pati hidup!

2.    Halaman 94-95
Puisi Arai yang secara menggelikan disalahartikan oleh penggemar Jim Morison.

Puisi untuk satu-satunya cinta dalam hidupku! Zakiah Nurmala....
Di sini! Disaksikan pusara Jim Morrison, kukatakan padamu!
Rampas jiwaku!
Curi masa depanku!
Jarah harga diriku!
Rampok semua milikku!
Sita!
Sita semuanya!
Mengapa kau masih tak mau mencintaiku?!

3.    Halaman 139-141
Begitu menyindir...

Surat ayah tentang Ikal yang bercita-cita menjadi economics scientist tetapi justru diharapkan menjadi ahli madya pupuk dan arai yang terobsesi menjadi microbiologist diharapkan menjadi seorang asisten apoteker.

Dan masih banyak lagi kejenakaan yang cerdas dari Tuan Hirata. Terima kasih. Sungguh menghibur dari awal hingga akhir.

Happy reading J