Sabtu, 15 April 2017

RUN AWAY TRIP TO JEKARDAH


Hallo,apa kabar?

Ini bukan serial kawin lari atau lari karena gak mau dijodohkan. Hanya sebuah perjalanan biasa seorang kakak yang gemes sama adeknya dan pengen ketemu. Plus.. melarikan diri dari nulis skripsi. Haha. Mohon jangan tiru adegan ini di rumah. Hanya dilakukan oleh orang yang sudah terlatih ditanyain kapan lulus.

Ini pertama kalinya sendirian naik kereta dari Jogja ke Jakarta. Terima kasih kepada Bogowonto yang sudah mengantarkan sampai tujuan. 7 April 2017. 09:00 - 17: sekian. Jogja - Jatinegara. 150 ribu saja. Nasi ayam 30 ribu :(

Nah, ini juga pertama kalinya merasakan padatnya Jakarta yang terwakili oleh suasana di atas KRL dari Jatinegara ke Citayam. Jam pulang kantor pula. Ya sudah, empet-empetan deh. Untung ada my bro and pakdhe yang jemput dan ikut empet-empetan. Hehe. Oh iya, ini blog pertama yang kutulis langsung, gak pake M-Word dulu sambil momong adek sepupu yang manggil gue 'Mbak Satim' :)

Nggak banyak jalan-jalan. Capek bro. Lebih pilih di rumah aja menikmati pasar stasiun Citayam yang nggak pernah sepi. Kayaknya gue nggak bakal betah kalau lama-lama di Jakarta dan sekitarnya. Kecuali lokasinya masih ijo royo-royo dan tenang menenangkan.

9 April 2017 rombongan pun pulang. Gue? Ikut balik lah :) ke Kediri dan lanjut weekend ke Trenggalek. Paling gak bisa nolak klo ada yang ngajak mampir ke T.Galek. Keretanya Krakatau 12 jam lebih. 270 ribu.

Oke. Jadi begitulah 2 minggu terakhir ini. Jogja-Jakarta-Kediri-Trenggalek. Banyak PR menunggu di rumah. #pokokendanglulus #brothersistersarewaiting #banyakyangdaftarikutwisudaan # :D


Sabtu, 01 April 2017

WILDLIFE OF HUTAN KOTA TRENGGALEK

Hi guys, how are you?

I apologize for not writing productively. I’v been busy going back and forth in my three favorite cities, Kediri, Trenggalek, and Yogyakarta. Next week I plan to visit Jakarta, insya Allah. J  

So, last month and last week I went to Hutan Kota Trenggalek (http://huko-trenggalek.blogspot.co.id/) and here I want to show you some beautiful creatures whom I met. Hope you like it. Happy watching and don’t forget to visit someday. I would love to listen from you who has visited this urban forest or plan to do so. See you soon...


Love from Jogja.






Sabtu, 11 Februari 2017

MATCH ME PERFECTLY

Hasil gambar untuk man messy bun sketch
Ghost by Kei Meguro

Dia berasal dari keluarga baik-baik.
Hidupnya sederhana.

My love at first sight, Musa.



Nggak ketipu gambar yang pertama kan? hehe..

Wah, akhirnya… perkenalkan, nama panjangnya adalah Jenggot Musa atau Tillandsia usneoides. Masih satu famili dengan nanas yaitu Bromeliaceae. Benar kan dia berasal dari keluarga baik-baik? Ya, meski saya tidak terlalu nyaman dengan keluarganya alias nggak suka nanas, kami tetap berteman baik. Halah.. J

Perkenalan pertama kami terjadi sekitar akhir tahun 2015 (nyontek catatan) dan pertama kali lihat langsung jatuh hati. Lucu aja, ada tanaman panjang menjalar yang namanya jenggot. Tapi memang mirip sih. Waktu itu saya beli satu ikat (lihat gambar) seharga 25 ribu rupiah (mahal nggak menurut kalian?) di PASTY (Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta).

Satu hal yang membuat Si Dia match me perfectly adalah sifatnya yang sederhana dan nggak manja. Ya, bolehlah kalau dibilang tanaman ini cocok buat tuan yang rating perhatiannya ke peliharaan begitu rendah kayak gue.. Hoho. Eh, tapi bener lho. For your information, faktanya tanaman ini:

1. Tidak membutuhkan media, hanya perlu disiram air sekali sehari, dan kalaupun terpaksa ditinggal pergi dia nggak manja dan bisa tahan hidup beberapa hari asalkan udara sekitar lembab dan cukup sinar matahari.

2. Pernah suatu hari Musa kutitipkan ke tetangga kamar waktu pulang kampung. Dia sempat panik sebab beberapa saat kemudian Musa, yang tadinya berwarna ijo berubah jadi abu-abu. Yup, itu faktanya. Tanaman ini memiliki sisik abu-abu pada batang dan daunnya untuk menyerap air dan menangkap debu serta nutrisi dari udara. Ketika basah, Musa jadi ijo. Udah kayak Hulk aja ya. Hah.

3. Meski terkenal dengan julukan Spanish Moss, tanaman ini tidak berasal dari Spanyol melainkan asli Amerika Selatan dan sekitarnya. Dia juga bukan lumut, tetapi tanaman berbunga. Bunganya kecil banget. Nggak menarik sama sekali. Tapi aku tetap cinta. Halah J

4. Di alam liar, dia hidup di batang pohon-pohon besar, tetapi bukan parasit. Mandiri. Cari makan sendiri. Nggak ngrepotin lah pokoknya.

5. Tumbuhnya bukan ke atas atau ke samping, tapi ke bawah. Panjangnya bisa mencapai 6-8 m. Propagasinya dengan biji atau cukup dengan memotong batangnya dan memindahkan potongan ke gantungan yang baru. Usahakan potongan tidak terlalu pendek.

Okeh, itu dia kesayanganku yang kusapa tiap pagi dan jadi teman ngobrol waktu sendiri. 
Semoga persahabatan ini happily ever after.
What about you?

Informasi lebih lengkap bisa dibaca di sini:

Sabtu, 04 Februari 2017

ONE DAY SURVIVAL

“because we are all hunters and we have to survive everyday”

Apa kabar?
Saya suka film-film adventure dan survival, tentu, kecuali bagian yang terlalu “menyeramkan”. Terakhir kali saya nonton “The Revenant”. Saya juga suka drama. My favorite one, “Slow Video”. Sebab di hutan maupun di kota, keduanya adalah alam liar yang sama-sama harus ditaklukkan.

Well, meskipun bukan perkara mendesak antara hidup dan mati, here is all we have to go through every single day in order to live properly (or maybe not?).

1.        Wake me up
Alarm yang bersedih hati pun berkata, “No more ignoring me!”.

Ada hari-hari yang sama sekali tak memerlukan bunyi-bunyian untuk bisa bangun pagi. Tetapi ada juga pagi-pagi yang terlewatkan begitu saja meski segala macam ringtone lelah mengetuk gendang telinga. Maka, hal pertama yang harus dilakukan untuk bisa bertahan hidup di hari ini, ya hari ini, adalah bangun pagi dengan ceria J. Agar bisa bangun pagi dengan riang gembira ada beberapa hal yang teman-teman sekalian harus ingat dan lakukan, yaitu:

Satu. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh (apapun itu) sebab istirahat/tidur akan lebih menyenangkan saat kita tahu bahwa kita sudah berusaha maksimal menyelesaikan tugas-tugas kita di hari tersebut. It’s more like, die with no regrets. Haha.

Dua. Jangan lupa gosok gigi dan cuci muka agar kuman-kuman jahat tidak tidur bersama kita. Bayangkan, bayangkan betapa kotornya mereka. Iih.. nggak mau kan tidur bareng mereka?!

Tiga. Lepas kacamata, bagi yang berkacamata seperti saya, dan letakkan di tempat yang aman. Akan sangat menyebalkan ketika Anda membuka mata di pagi hari dan melihat kacamata telah terbelah dua. Broken glasses, broken heart. Hah.

Empat. Berdoalah. Doakan orang-orang tersayang, doa sebelum tidur, dan jangan lupa untuk mengakui dosa-dosa kita seharian ini dan memohon ampunan (kata lainnya, muhasabah).

Lima. Nah, ini paling penting buat yang susah bangun pagi. Jangan lupa klik ON pada alarm-alarm Anda. J

2.      Mengejar matahari

Khususnya bagi sodara-sodara yang masih mencuci baju tanpa mesin pengering, satu-satunya sumber energi yang bisa mengeringkan pakaian adalah terik mentari. Tiada yang tahu kapan teriknya cahaya matahari bisa menyinari hari. Apalagi di musim hujan seperti sekarang ini. Pintu pabrik jarang terbuka lebar. Cahaya matahari sering terhalang awan hujan. Maka, bentuk survival agar dapat bertahan hidup secara layak alias nggak terpaksa pakai baju yang sama selama berhari-hari adalah dengan sungguh-sungguh memanfaatkan jam buka pabrik panas, yaitu matahari, dengan rajin-rajin mencuci. Sungguh, sebab tiada yang tahu kapan cahaya itu datang dan pergi. Hah.

Oh, jangan lupa juga untuk menyetrika selagi ada aliran listrik. Ya, kita juga tak pernah tahu kapan giliran pemadaman listrik datang. Innalillahi…

3.      Debu combat

Ada kalanya seorang berkomentar, “Kenapa harus bersih-bersih? Toh nanti juga kotor lagi”. Hmm.. iya sih kotor lagi, tapi kan nantinya yang kotor itu jadi bersih lagi. Bayangkan, meja kerjamu yang putih diselimuti debu, pojok-pojok kamarmu penuh dengan pemukiman laba-laba, piring dan gelas berubah warna oleh jamur dari makanan sisa, dan belum lagi air yang menggenangi kamar mandi. Oh Tuhan, siapa yang bisa bertahan hidup di kamar kos atau rumah seperti itu?!

Debu dan kotoran-kotoran itu bagaikan masalah dalam hidup ini yang tak pernah berhenti dan kalau tidak diselesaikan segera, mereka akan menimbulkan gunungan stres yang jika suatu saat meledak bisa membahayakan nyawa Anda. Percayalah. Kebersihan adalah sebagian dari iman, Kawan.

4.      In order to eat we have to…

Makan bukanlah sekedar memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya (KBBI). Banyak sekali pekerjaan lain menyertainya, yang bagi orang dengan daya survival rendah alias malas (haha, yeah, but it’s real) akan mengakibatkan kelaparan dalam kurun waktu seharian. Khususnya lagi bagi yang masih hidup sendiri (baca: nge-kos).
  
Berawal dari memilih menu apa yang akan disantap. Sungguh tidak mudah memutuskan sesuatu dalam hidup, terlebih lagi tentang yang satu ini. Enak-tapi mahal-tapi nggak sehat atau no vetsin-tapi ribet masak sendiri-tapi juga sehat.

Oke, lalu setelah berhasil menentukan menu, kita masih harus berjalan ke warung untuk membeli bahan makanan. 

Next.. masalah berikutnya yang harus dihadapi adalah: alat makan dan alat masak yang masih menumpuk kotor di dapur. See.. agar bisa makan kita harus berjuang melawan dinginnya air untuk dapat mencuci piring dan wajan sebelum akhirnya menyiapkan santapan yang lezat. Yeah.. hidup adalah perjuangan. We have to survive. We need to eat, right?

5.      Staying hydrated

Don’t forget to stay healthy. Drink enough water and do minimum 30 minutes exercise every morning. Someone said, “Keep your body strong, mind sharp, soul nourished, and spirit positive”.


_in the end, it's all the same, why don't we do it lively _

J

Senin, 23 Januari 2017

RANU KUMBOLO ?

Baru beberapa hari yang lalu di Journey to the East gue, haha gue...  oke saya, saya bilang pengen at least bisa sampai ke Ranu Kumbolo. Dan… apa yang terjadi? Well, 31 Desember 2016, I was actually here…

video by Ana J.

Haha. Yup, itu dia. No spoiler :)
Bagus kan? Selangkah lagi lah.. pasti bisa. Nothing is impossible.

Jumat, 20 Januari 2017

FAMILY TRIP: JOURNEY TO THE EAST

Apa kabar?
Duh, lagi demam vlog nih… bahaya!

Sebelumnya, mohon maaf karena gagal upload jurnal di pekan lalu karena sibuk ngurus ini dan itu sebelum akhirnya pulang kampung lagi tanggal 13. Tepat di hari Jumat. Daan.. lima jam setelah sampai rumah, saya sudah harus berangkat lagi untuk menempuh perjalanan ke timur dalam satu rombongan dengan komposisi: ayah, ibu, dan dua orang anak.

Setelah sekian bulan adekku yang paling cool sedunia merantau ke Barat, alhamdulillah bulan ini libur kuliah dan bisa pulang. Semakin jarang kumpul begini. Pernah juga suatu saat kami berempat berada di empat kota berbeda. Saya ngampus di Jogja, adek ngampus di Jakarta, Ibu jalan ke Bali, dan Ayah jaga rumah di Kediri. So.. begitu kumpul, jalan deh kita…

Kemana saja?
  1. Kami berhasil berangkat dengan gembira dan bensin yang cukup (ini penting).
  2. Lewat Waduk Lahor, Selorejo.
  3. Ngintip puncak Semeru (Tuhan izinkan saya minimal sampai ke Ranu Kumbolo suatu hari nanti. Amin).
  4. Mampir di Jembatan Gladak Perak, Piket Nol, yang konon jadi tempat buang mayat korban G30S/PKI.
  5. Makan gorengan.
  6. Lewat alun-alun Lumajang.
  7. Balapan mobil di Malang.
  8. Makan roti kedaluwarsa di Coban Rondo dan masih bisa pulang dengan selamat dan sehat wal afiat.
  9. Minum susu dari Koperasi Susu Sae, Pujon.

Nah, mana buktinya?
Ini dia (klik gambar berikut) hasil belajar take video pakai kamera pinjaman dari kakak sepupu dan edit sendiri pakai laptop adek. Belajar tidak harus mahal, yang harus ada adalah niat yang kuat. Haha. 

Sorry for the video quality.. masih amatiran J


Okeh, that’s it. Selebihnya… saya ingin berterimakasih kepada “pohon-pohon” di luar sana yang masih setia berdiri tegak menungguku hingga bisa berjalan melintas dengan langkah tegap. Lalu mengizinkan saya sesekali berlindung di bawahnya dari terik matahari atau basah air hujan (tapi hati-hati, kalau hujan lebat bisa kesamber petir J)

_family is where life begins and love never ends_

Jumat, 06 Januari 2017

KEMEJA FAVORIT

Apa kabar?

Sewaktu menulis ini saya pakai jaket denim kebesaran (dalam arti sebenarnya) punya Ibu. Memakai baju-baju lungsuran* tidak masalah bagi saya. Karena eh karena, selain baju itu punya nilai sejarah, ini juga semacam mix and match challenge. Apalagi seminggu ini lebih suka keluar pakai sepatu kets (baru, hehe). Cocok lah, my new shoes and my old denim, plus listening to The Beginning by One Ok Rock.

Vlog pertama bareng kelinci bandel yang satu ini 

Oke. Satu lagi baju yang jadi favorit seminggu ini: kemeja Ayah. Sebuah kemeja putih dengan garis-garis vertikal berwarna abu-abu. Tahu sendiri kan, motif belang sempat jadi tren di dunia fashion (masih kah?). Merk-nya Shago. Sebelumnya pernah dipakai juga oleh anak lelaki ayah alias adik saya.

Kemeja ini istimewa karena secara tidak langsung mempererat hubungan seorang anak gadis dengan ayahnya (Halah, haha). Saya juga suka pakai baju-baju dengan ukuran lebih besar. Fakta yang luar biasa lainnya pemirsa, adalah nilai sejarah dari atasan yang mirip selimut rumah sakit ini. Kemeja ini lebih tua dari usia saya! Bahkan, ia sudah dipakai Ayah sebelum menikah dengan Ibu. Wow!

Betapa baju ini menyimpan cerita panjang yang belum semua terungkap. Perlu ditelusuri. Mungkin akan membutuhkan investigasi mendalam dan paparan dari para ahli sejarah. Menarik. Sungguh menarik.

...

Hai yang di luar sana, ada juga yang suka pakai baju Ayah atau Ibumu?


*Lungsuran = baju bekas, biasanya dapat dari orang tua atau saudara