Rabu, 24 Februari 2016

THE GIRL AND A PILE OF BOOKS

Intro:
Ada 2 pemain film KMGP sedang ngopi starbucks di depan mata...

Dan.. begitu saja. Haha.
-------------------------------------------->

Oke. Masuk ke pokok bahasan...
Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang buku di sini.

Entahlah.
Ia adalah si tak hidup yang menggairahkan dan membosankan.
Tak perasa yang menyakitkan dan menggembirakan.
Perjalanan sekaligus tempat berdiam.
Tutur yang mampu melintasi jaman.
Rapuh yang membakar.
Begitulah.

Entah sejak kapan “membaca” jadi salah satu bahan wajib untuk diisi di kolom hobi. Dengar-dengar, orang yang hobi baca itu keren. Nah, mungkin sejak itulah saya memutuskan untuk menjadi salah satu orang keren di dunia ini. Namun, meski demikian saya nggak memaksakan diri untuk membaca setiap buku yang baru keluar atau sedang ramai dibicarakan. Saya bukan editor, tetapi penikmat karya baik fiksi maupun non fiksi, sastra maupun non sastra. Maka, sebagaimana penikmat kopi, saya juga pilih-pilih jenis kopi mana yang mau saya sruput.

Buku pertama atau mungkin lebih tepatnya yang sering saya baca sewaktu kecil selain buku belajar membaca dan berhitung adalah buku-buku semacam 25 nabi, kisah nabi khidir, dan siksa api neraka (ini buku serem banget nggak sih? Anak 90-an pasti paham deh, haha). Buku-buku itu dibelikan oleh ayah tercinta. Kalau nggak salah ingat belinya di alun-alun. Harganya masih empat digit.

Kenapa suka buku? Saya pernah cicit cuit di twitter (@master_bee-_hiro) begini...

      when I lost my sight, the book saved me

buku? karena ia mengijinkanq menikmati gunung yg mungkin tak sempat kujejaki. hutan utk kujelajahi, atau sungai yg deras dan keruhnya kusegani

Oleh sebab itulah, kalau ada buku yang difilmkan, saya lebih memilih baca bukunya dulu baru nonton filmnya. Kenapa? Karena visualisasi yang dibuat oleh sang sutradara berpotensi merusak seindah-indahnya bahkan seburuk-buruknya imajinasi yang sudah saya bangun dengan susah payah.

Well, ini dia lima buku yang cukup mempengaruhi saya sementara ini...
1.         Sokola Rimba – karya Butet Manurung
Semua bagian adalah favorit. Tapi yang paling favorit adalah surat wasiat yang ia tulis saat pertama kali datang ke lingkungan orang rimba dan harus tidur sendirian di kedalaman hutan. Kocak.
Ya, saya suka model tulisan seperti ini. Lihat saja buku favorit kedua saya ini...
2.         Anak-Anak Angin – karya Bayu Adi Persada
I love how he overcome every obstacle to teach the kids and gave them the best experience as children and student.
3.        Into the Wild – karya Jon Krakauer
Buku ini pernah saya bahas sebelumnya. Tulisan ini membuat saya jatuh hati dengan penulis dan jurnalistik.
4.        Citizen Journalism – karya Pepih Nugraha
Melalui buku ini saya jadi lebih bersemangat nge-blog. Yah, meski begini-begini saja. Haha. Kesimpulannya, dunia jurnalistik sekarang bukan hanya milik jurnalis arus utama.
5.        Edensor – karya Andrea Hirata
Satu-satunya karya Andrea Hirata yang saya baca secara utuh dan bikin ketawa dari awal hingga akhir.


Oke. Itu saya. Kalau kamu?

Sabtu, 13 Februari 2016

MANUAL

Tuhan tidak menciptakan manusia tanpa petunjuk perawatan dan penggunaan manual. Ya, seperti mainan atau barang elektronik yang kita beli itu. Hanya saja kita sering sok pintar, enggan membaca petunjuk manual, dan hanya coba-coba. Kalau sudah ada yang rusak barulah menyesal dan kelimpungan mencari si manual. Apa petunjuk manual bagi si manusia? AlQuran dan AsSunnah.

Beruntung Tuhan menciptakan sistem taubat. Sebuah sistem garansi bagi yang mau menukar mainan rusaknya dengan yang baru. Hanya saja, sebagaimana kartu garansi berlaku, Tuhan menetapkan syarat-syaratnya agar taubat dapat diterima. Jika garansi hanya bisa di toko resmi, maka taubat hanya diterima jika kita datang kepada Allah yang satu, bukan ke yang lain. Kalau garansi toko biasanya setahun, maka garansi Allah ini seumur hidup sebelum sakaratul maut datang. Bedanya, kita bisa menghitung panjang tahun, tetapi tak pernah tahu kapan maut hadir.    
ana J. 2016.02.14

Minggu, 10 Januari 2016

HARMONY?


Saya baru saja mengikuti sebuah tes karir online. Hasilnya, saya termasuk yang mereka katakan sebagai –harmonizer–. Harmony dalam Kamus Cambridge berarti when people are peaceful and agree with each other, or when things seem right or suitable together. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, harmoni berarti pernyataan rasa, aksi, gagasan, dan minat; keselarasan; keserasian.

Semua orang menginginkan situasi yang satu ini. Harmoni. Selaras. Serasi. Seimbang. Yang berlebihan itu tidak baik, bukan? Saya setuju. Kemudian saya menelaah kejadian-kejadian yang lalu dan... yang kemudian saya ketahui adalah... selama ini saya selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Bukan saya tidak mensyukuri nikmat itu, tetapi kembali pada konsep harmoni, keseimbangan, tidak berlebihan, saya jadi berpikir kalau orang-orang baik di sekitar saya bisa jadi adalah ujian bagi saya.

Ujian kebaikan yang pertanyaannya adalah, “Bisakah kamu menjaga kepercayaan dari orang-orang baik ini dan membalas kebaikan mereka dengan menjalani peran hidupmu dengan sebaik-baiknya?”.

Rabu, 30 Desember 2015

PERTAMA DI AKHIR TAHUN 2015

Masya Allah... jadi kayak gini kota-kota wisata kalau lagi musim liburan. Selama kuliah, meskipun saya suka main, belum pernah saya merasakan hingar bingar jalan raya dan tempat wisata segila ini. Ramainya pakai banget. Super sekali. Yup, coz memang saya nggak suka main ke tempat-tempat yang ramai atau pas lokasinya banyak pengunjung, kecuali ada tugas negara. Hari itu, karena harus menjadi pengantar rombongan keluarga, jadilah saya ikut stres di jalan, tapi ada juga nih beberapa kejadian asik yang akhirnya saya alami dan lakukan untuk pertama kalinya selama lima tahun lebih di Jogja. Ini dia..

Hotel Rasa Pengungsian
Kami berenam dan tidur di satu kamar hotel dengan dua kasur kecil. Bisa langsung ditebak kan. Yup, yang nggak kebagian tempat harus lesehan, tidur di bawah beralaskan karpet plus bed cover. Hehe. Jadi rasa pengungsian yang dimaksud bukan karena hotelnya nggak nyaman tapi sebab kami memilih ngumpul di satu ruangan berenam. Per tanggal 23 Desember rata-rata tarif hotel naik and fully booked. Menurut cerita Bapak sopir taksi yang kami tumpangi, kenaikan tarif bisa mencapai lebih dari dua ratus persen. Edaaan. Inilah saatnya meraup pendapatan sebanyak-banyaknya. Ganti dari hari-hari biasa yang tidak selalu ramai pengunjung. Alhamdulillah, kami dapat hotel dengan harga cukup terjangkau. 

Kresek Warna-Warni
Ini pertama kalinya saya mengunjungi sekaten alias pasar malamnya Jogja. Kami berangkat naik trans Jogja. Pengalaman pertama bagi adik-adik sepupuku. Penuh, excited, pusing, dan hujan. Sampai di halte depan Benteng Vredeburg hujan masih deras mengguyur. Aduh, ini tantangan pertama saya. Nggak gampang bawa rombongan. Harus belajar mengambil keputusan di situasi tak terduga demi kebaikan bersama. Thank God, My Mom was there with us. Mamam memanggil penjual jas hujan ala tukang becak yang bahannya plastik. 5000 rupiah saja per bijinya. Sebelumnya sudah banyak yang pakai di sepanjang Jalan Malioboro. Kayaknya asik. Kami memutuskan hujan-hujan menuju alun-alun. Malioboro pun banjir kresek warna-warni.



Sewa Mobil atau Taksi
Tujuan utama adik-adikku adalah mengunjungi Borobudur. Malam hari sambil ngantuk-ngantuk kami bingung mau naik apa ke lokasi. Awalnya mau coba naik kendaraan umum, tapi mengingat keadaan jalan yang tak menentu (ramene puoool) dan belum pernah naik bus kesana, maka untuk menghindari resiko berantem karena panas dan macet di jalan akhirnya kami telpon penyewaan mobil. Deal! 575 ribu rupiah/12 jam. Bonusnya, dapat kenalan sopir asik. Kalau naik taksi tarif borongan antara 60-80 ribu rupiah bisa nambah lagi tergantung tujuan. Kalau memang niat mengunjungi banyak tempat sebaiknya memang bawa kendaraan sendiri atau sewa mobil untuk rombongan. Di waktu liburan seperti ini taksi sulit didapatkan dan destinasi wisata yang asyik biasanya sulit dijangkau dengan kendaraan umum. Kecuali bagi yang pergi sendirian dan udah niat berpetualang cari tumpangan J.

Selalu Asik Main ke Museum
Ini destinasi favorit saya. Kalau mau tahu sejarah dan peninggalan kerajaan Mataram Islam berkunjunglah ke tempat ini. Adem, artistik, banyak kupu-kupu. Dialah Museum Ullen Sentalu. Saya suka. Saya suka. Saya suka. Hampir saja batal masuk padahal sudah beli karcis gara-gara harus antri untuk masuk ke dalam. Tapi berkat ijin Tuhan Yang Maha Esa akhirnya saya bisa melihat koleksi dari empat kerajaan pecahan Mataram Islam. Jadi, sebelum masuk kita harus beli tiket, lalu mendaftarkan jumlah orang dalam rombongan. Masuknya bergantian per kelompok kecil yang jumlahnya ditentukan petugas di pendaftaran. Kenapa? Sebab untuk memudahkan petugas yang akan memandu dan menjelaskan detail koleksi yang ada. Di dalam kami dilarang mengambil foto di area koleksi. Sebelum area terakhir kami pun diberi sajian minuman atau wedang rempah hangat. Keren lah pokoknya. Yang suka atau sedang belajar sejarah sangat dianjurkan mengunjungi tempat ini. Yang mau ngajak saya ke sini lagi juga boleh, tapi traktir ya. J Biaya masuk anak-anak 15K dan dewasa 30K.


P.S. : Happy Holiday, tapi brothers and sisters inget ya, No Party!

Selasa, 15 Desember 2015

ME AND MEDIA

ü Facebook terbuka untuk umum sejak tahun 2006. Saya punya akun tahun 2009 akhir, masih aktif tapi jarang dimanfaatkan.
ü Blog mulai ramai di Indonesia tahun 2000-an. Saya punya akun wordpress (2009) yang sudah tidak pernah ditengok, blogspot yang masih merintis eksistensi sejak terbit pertama tahun 2010, dan sentuhan pertama saya dengan tumblr terjadi pada bulan dua belas tahun dua ribu lima belas.
ü Twitter resmi dibuka tahun 2006. Saya baru punya akun tahun 2014. Status sekarang?

Tweet: 111
Follower: 25
Following: 97

Berdasarkan data di atas dapat dikatakan bahwa saya termasuk makhluk Tuhan yang awam soal media, terutama media sosial. Junior. Orang baru. Tetapi di sisi lain saya juga dapat dikategorikan sebagai Homo sapiens yang tidak terlalu ketinggalan teknologi dan informasi (maksa banget ya J). Buktinya, meskipun saya sedang tidak tertarik dengan facebook, saya masih sering membagi tulisan-tulisan hasil berantem ide dengan diri saya sendiri di blog ini. Selain itu saya juga semakin sering membuka twitter, follow, unfollow, dan melakukan aktivitas cicit cuit ala si burung biru.
Arus informasi jaman sekarang sangat cepat. Menyadari hal itu saya merasa perlu untuk mengetahui media-media yang banyak digunakan orang (nggak ada kata terlambat buat belajar kan?hehe). Saya, yang dulu waktu SMP mengirim email saja tidak bisa, memulai sebuah hubungan dengan dunia yang lebih luas melalui jaringan tak kasat mata di dunia maya. Perlahan mencoba menjadi penikmat lalu belajar menjadi pelaku.
Sisi baik dari mengikuti perkembangan media adalah tentu saya jadi tidak ketinggalan informasi terkini, memiliki wadah untuk mengekspresikan diri, dan berkesempatan menikmati karya orang-orang super kreatif di luar sana yang terpisah jarak. Contohnya, akhir-akhir ini saya berkenalan dengan tumblr setelah ikut sesi seminar bareng Kurniawan Gunadi. Dari gabung tumblr saya jadi kenal podcast-nya Iqbal Hariadi, kitabisa.com, dan ada ya istilah vlog alias video blog (hahaha, katrok abiz ya gueeeh). Alasan-alasan itu yang membuat saya semakin sering buka timeline dan belajar berbicara lewat media-media itu.
Ada sisi baik, maka ada sisi buruk. Seperti yang dikatakan Agung Adiprasetyo di pengantar buku Citizen Journalism karya Pepih Nugraha, jaman sekarang manusia cenderung ingin dilihat, didengar, dan dianggap oleh orang lain. Efeknya, jadi semacam candu untuk melihat respon orang terhadap tulisan atau ocehan kita yang di publish di media sosial atau blog. Akhir-akhir ini saya juga merasakan candu itu. Bahaya? Mungkin. Tetapi bukankah teknologi memang seperti dua sisi mata pisau? Jika tahu cara memanfaatkannya maka ia bisa menjadi sarana menebarkan virus kebaikan bahkan nggak menutup jalan ke arah bisnis, tetapi kalau jadinya terlena candu yang ­self-centered jadinya hanya akan menghabiskan waktu sia-sia.

So, mari terus belajar media dan memetik manfaatnya.

Selasa, 08 Desember 2015

POWER RANGER WANNA BE

If changing was easy, we wouldn’t be human.
-Dialog film ‘Plan Man’-

Hari masih pagi. Kami diajak ke pinggir pantai. Setelah sebuah ritual yang terkomando dengan rapi selesai, kami harus melakukan satu hal yang rata-rata dari kami di sana belum pernah melakukannya. Kami pun menghadap ke laut lepas. Cengingisan sebentar, pertanda sepakat bahwa ada rasa malu dan ingin mencoba yang campur aduk, lalu masing-masing mengambil posisi paling nyaman. Satu, dua, tujuh. Menunggu angin dan ombak yang tepat lalu satu persatu mulai berteriak lantang. Mengucap apa saja diperbolehkan kecuali mengumpat. Hingga sampailah pada giliran ke delapan. Dengan lantang, so hearted out, gadis itu berteriak...

“Power Ranger! Berubah!”

Setelah mengingat-ingat kejadian bertahun lalu itu, yang mungkin sebagian dari kami menertawakan, saya baru menyadari bahwa pola perubahan Power Ranger dan superhero-superhero buatan barat lainnya sesungguhnya menyimpan pelajaran yang sangat penting dan teriakan itu bisa jadi sangat berarti baginya.

Mengapa superhero harus berganti kostum warna-warni dan mengubah dirinya dari manusia biasa menjadi makhluk super?

Kawan lama saya itu tanpa sengaja mengajarkan bahwa menjadi pahlawan yang menolong orang banyak adalah sebuah awal perubahan bagi diri seseorang. Keinginan membantu sesama dapat memicu seseorang untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih dari biasanya. Kita tidak akan bisa menjadi manfaat bagi orang lain jika kita sendiri tidak mau berubah ke diri yang lebih baik, memiliki kompetensi, dan kuat dari sebelumnya. 

#mengingat dan belajar kembali


Minggu, 06 Desember 2015

GELISAH DAN SIBUK

Catatan Bengkel Journalist Event 2015 (2)

Puncak acara BEJO Event 2015 yang diadakan Keluarga Muslim Fakultas MIPA UGM adalah seminar nasional yang menghadirkan Asma Nadia, Kurniawan Gunadi, Fajar Dwi Putra, Edcoustic, dan Orkes Keroncong Pelipur Lara. Agenda akhir tahun yang dipandu oleh MC yang kocak dan  pertemuan dengan guru-guru yang luar biasa.

Tunggu dulu, mengapa judul tulisan ini “Gelisah dan Sibuk”?
Sebab setelah proses mencerna dan menyimpulkan isi perbincangan dengan para penulis tersebut, saya bisa mengatakan kalau semua tulisan berawal dari kegelisahan. Kurniawan Gunadi yang menuliskan kegelisahannya saat masih kuliah, Fajar Dwi Putra yang gelisah melihat fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, serta Asma Nadia yang banyak menulis tentang pengalaman hidup orang lain agar menjadi pelajaran bagi kita.
Siapapun yang menulis pastilah memiliki suatu masalah, atau keresahan, dan pertanyaan yang ingin dijawab sehingga lahirlah sebuah karya yang bisa jadi adalah jawaban bagi penulis sendiri atau justru membantu orang lain belajar lebih banyak hal. Luar biasa.
Bicara tentang gelisah, Egi Edcoustic dan Asma Nadia juga sempat menyampaikan keprihatinannya terhadap pembajakan karya. Dia mengingatkan kita semua untuk lebih menghargai, mengapresiasi, dan mendukung karya-karya positif dengan tidak lagi menikmati musik atau film bajakan (ada yang senyum-senyum sendiri waktu nulis ini J).

Lalu bagaimana dengan sibuk?
Kurniawan Gunadi, penulis yang aktif di tumblr ini telah menghasilkan dua karya yaitu Hujan Matahari dan Lautan Langit (definitely akan saya baca setelah ini J) tidak suka dibilang sibuk sebab menurutnya sibuk adalah kata untuk orang yang tidak bisa mengatur waktu. (Tuh, catet ya... )
Asma Nadia juga menyampaikan tentang tips bagaimana kita bisa menggali kreativitas. Salah satu caranya adalah dengan tetap aktif dalam berbagai organisasi kebaikan dan melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat. Dengan kata lain, tetap mengasah otak dan pemikiran dengan kesibukan yang positif. Beliau berpesan bahwa hidup itu tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga. Setelah berhasil mengurus diri sendiri dan keluarga kita diharapkan juga bisa mengajak orang lain menuju kesuksesan.

Oke, sekarang bagaimana tentang kepenulisan?
Kurniawan Gunadi:
1.    Saya menulis untuk mendengarkan diri saya sendiri. Kalau menulis karena uang maka isi tulisan akan penuh dengan intrik. (Menulis itu harus jujur, red).
2.    Tantangan awal yang harus dihadapi dalam pilihan pekerjaan yang tidak populer yaitu menulis adalah restu orang tua, menghindar dari orientasi uang, dan menjelaskan pada orang lain tentang pekerjaan tersebut. Mas Gun mengingatkan bahwa restu orang tua itu penting sebab akan memberikan kemudahan-kemudahan di kemudian hari seperti yang dalaminya. Untuk menjelaskan ke orang tua haruslah dengan cara yang baik dan kita bisa membuktikan bahwa kita mampu menjalani pilihan kita.
3.    Tulisan adalah rekaman jejak pikiran kita sendiri.
4.  Untuk mengatasi ide yang buntu, maka perbanyaklah mencari referensi dengan membaca, bertemu banyak orang, dan perbanyak diskusi.
5.    Perbanyak teman dan perluas jaringan akan mempermudah proses lahirnya karya tulis kita.
Fajar Dwi Putra
1.   Orang yang kreatif memulai dengan berpikir secara divergen, yaitu memiliki kemampuan untuk menjawab satu pertanyaan dari berbagai sudut pandang.
2.    Selain itu juga belajar berpikir spasial, yaitu bisa melihat masa lalu, sekarang, dan esok.
3.  Tema yang dipilih bukan yang baik tetapi yang menarik bagi pembaca. Unsur subyektivitas dalam tulisan memang tidak bisa dihilangkan tetapi dalam mempresentasikan ide sebisa mungkin harus obyektif.
4.    Janganlah simpan naskah terlalu lama. Hal ini berhubungan dengan penyakit akut para penulis yang harus dibasmi yaitu malas.
5.  Penyakit berbahaya lain yang harus dihindari adalah maladaptif atau memiliki banyak ide sehingga tulisan tidak pernah bisa selesai sebab melompat dari ide satu ke ide yang lain.
6.  Perbanyak komunitas dan membangun jaringan untuk melihat kondisi sekitar dan bisa jadi tempat untuk “berantem” ide.
Bagaimana kawan, sudah mulai merasakan kegelisahan dan ingin segera menulis? Menulis adalah salah satu sarana kita untuk belajar menjadi kritis dan melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang. So, selamat berkarya dan jangan lupa untuk banyak-banyak membaca.
Terima kasih juga untuk penampilan Pelipur Lara yang membuat lagu Bengawan Solo jadi asik untuk didengar (mungkin karena yang main sama-sama anak muda J).